Selasa, 20 Oktober 2009

“Agar Kambing Enak Dikonsumsi” plus 1 more

“Agar Kambing Enak Dikonsumsi” plus 1 more


Agar Kambing Enak Dikonsumsi

Posted: 20 Oct 2009 12:41 AM PDT

TAK seorang pun menolak untuk menyantap menu makanan dengan bahan utama daging kambing. Apalagi jika disandingkan dengan menu lain yang tak kalah lezatnya. Untuk itulah Anda perlu mengetahui cara mengolah daging kambing yang baik. Berikut tipnya:

- Supaya daging kambing tidak berbau, didihkan air dulu, baru masukkan dagingnya. Kemudian masak hingga empuk.

- Supaya daging lebih empuk, bungkus dengan daun pepaya. Daun pepaya mengandung enzim papain yang bisa membuat daging lebih empuk. Memarkan daun pepaya, terutama tulang daunnya. Bungkus rapat daging selam 1 jam atau lebih.

- Bisa juga daging dicampur dengan parutan nanas muda selama 1 jam. Baru setelah itu dibersihkan daging dan potong-potong.

- Atau rebus daging bersama-sama sari santan kelapa hingga mendidih. Untuk 1 kg daging, gunakan 1 buah kelapa. Selain empuk, daging juga terasa lebih gurih karena telah menyerap santan.

- Jangan campurkan daging kambing dengan air dingin.

This content has passed through fivefilters.org.



image

Delapan Rasa Buntut

Posted: 20 Oct 2009 12:07 AM PDT

BUNTUT dapat diolah menjadi menu yang bervariasi. Setidaknya, ada delapan rasa buntut yang bisa Anda temukan di Buntut Festival. Apa saja?

Siapa tidak kenal sup buntut? Rasanya hampir semua orang di Indonesia pernah mencoba menu yang satu ini, atau bahkan sempat membuatnya sendiri. Menu yang identik dengan kuah tersebut memang memiliki rasa yang sangat familier bagi lidah masyarakat di Nusantara. Tidak heran jika sup buntut kemudian populer dan mudah ditemukan di kafe, restoran, ataupun warung kaki lima di kota-kota besar.

Terinspirasi oleh kepopuleran olahan buntut sapi, pengelola Lumire Hotel and Convention Center, Jakarta Pusat, lantas menggelar program promosi bertajuk Buntut Festival. Sesuai namanya, festival ini tentu menyajikan aneka makanan yang terbuat dari buntut sapi. Program ini menarik karena menampilkan menu-menu yang unik. Sedikitnya ada delapan rasa sup buntut yang ditawarkan. Semuanya sungguh menggugah selera makan.

Kedelapan jenis sup buntut itu antara lain adalah buntut andaliman yang identik dengan rasa pedas. Buntut andaliman berasal dari Medan, Sumatera Utara. Ada pula buntut taliwang yang dikenal sebagai masakan tradisional asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Juga sup buntut yang dikreasikan dengan nuansa Barat, yaitu buntut hot plate. Hidangan ini unik karena sup disajikan di atas hot plate yang masih panas, sedangkan kuahnya dituang di atas sup di hadapan tamu, sehingga aromanya akan terasa segar bagi siapa saja.
Apalagi, buat para pencinta sup buntut.

"Sebenarnya Buntut Festival ini waktunya sudah habis. Tapi karena antusiasme masyarakat sangat besar, dengan senang hati kami melanjutkan program ini tanpa batas waktu," kata Executive Chef Lumire Hotel and Convention Center Sapto Pratikto.

Bagi penggemar rempah dengan rasa yang agak kuat, buntut black pepper bisa menjadi pilihan. Adapun olahan buntut lainnya yang termasuk dalam festival ini adalah menu buntut balado dan buntut rica-rica yang berasal dari Sulawesi Utara.

"Untuk mendapatkan sup buntut yang benar-benar berkualitas, kami menggunakan buntut sapi dengan mutu nomor satu. Buntut sapi kami impor dari Selandia Baru," imbuh chef yang sudah puluhan tahun berkecimpung di ranah kuliner Tanah Air itu.

Untuk menghilangkan bau amis pada buntut sapi, Sapto menggunakan berbagai jenis rempah, seperti jahe dan bawang putih. "Agar hilang bau amisnya, kami merebus buntut dengan air mendidih, lalu diamkan beberapa saat. Kemudian airnya dibuang, baru direbus lagi dengan bumbu sup," sebut Sapto.

Buntut Festival sengaja digelar untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang tidak bisa dipandang sebelah mata. "Baru dari buntut saja berbagai variasi menu bisa dibuat. Apalagi jika kekayaan kuliner Indonesia ditelusuri lebih dalam, maka akan ditemukan aneka masakan tradisional yang banyak sekali ragamnya," tandas chef yang piawai meracik hidangan Nusantara itu.

Agar rasa menu cocok dengan lidah orang Indonesia,Sapto menggunakan bumbu yang biasa digunakan untuk mengolah sup buntut dan semuanya cukup mudah ditemui di pasaran.

"Hanya, sup kami variasikan, misalnya dengan menggunakan sentuhan Barat, yang bisa dilihat pada menu buntut hot plate.Buntut hot platehampir sama dengan steak. Bedanya steak biasa dibuat menggunakan daging sapi, sedangkan pada buntut hot plate, yang digunakan adalah buntut sapi," terang Sapto.

Buntut hot plate juga disajikan bersama kentang halus. Hmm... sangat bernuansa Barat bukan? Namun, sentuhan ketimurannya juga tidak dihilangkan. Pada menu ini, Sapto menambahkan plecing kangkung sebagai pelengkap. Plecing kangkung, seperti kita tahu, merupakan sajian khas Lombok.

This content has passed through fivefilters.org.



image

Tidak ada komentar: