Kamis, 25 Februari 2010

Sagoo Andalkan Santapan Nostalgia pasti siip

Sagoo Andalkan Santapan Nostalgia pasti siip


Sagoo Andalkan Santapan Nostalgia

Posted: 24 Feb 2010 11:43 PM PST

Message from fivefilters.org: If you can, please donate to the full-text RSS service so we can continue developing it.


Seperti apa rasanya? Restoran yang berlokasi di lantai dasar Margo City, Depok, Jawa Barat ini menawarkan hidangan Tionghoa peranakan dan Jawa. Untuk masakan Jawa, misalnya, ada mi jawa, bistik sapi jawa yang rasanya menyerupai semur, nasi goreng babat yang merupakan masakan khas Semarang, nasi rawon, dan kerupuk banjoer yang merupakan penganan asli Cirebon.

Adapun nama lain kerupuk banjoer adalah kerupuk melarat. Mengapa demikian? Rupanya karena dulu warga di sana tidak mampu membeli minyak goreng sehingga kerupuk harus digoreng dengan pasir. "Kerupuk ini kami beli sudah jadi," ujar Store Manager Sagoo Rizal Andi Kartiwa.

Ada pula tahu pong gimbal telur. Ini adalah tahu yang digoreng kering hingga dalamnya kopong dan disajikan dengan sambal petis. Menu ini enak dimakan selagi hangat. Tahunya yang garing, makin mantap dicelupkan ke dalam sambal petis. Kuah sambal ini agak asin, cocok dipadukan dengan tahu yang tidak berasa.

Restoran yang beroperasi pada pukul 10.00-22.00 WIB ini juga memiliki resep racikan sendiri. Simak saja, ada nasi goreng tempo doeloe. Nasi yang dibentuk menyerupai tumpeng ini diberi garnish telur dadar yang diiris dan dikasih ebi di sekelilingnya. Agar tidak "kering", tak lupa nasi goreng diberi selada, mentimun, dan tomat, lalu dilengkapi dengan kerupuk udang.

Masih seputar nasi goreng, ada nasi goreng sagoo. Menu ini hampir sama dengan nasi goreng tempo doeloe, tetapi bedanya diberi irisan dendeng sapi di atas nasinya. Selain itu menu yang tak boleh lupa untuk dicoba adalah bee hoon crispy. Menu ini berupa bihun mentah yang langsung digoreng tanpa direbus terlebih dahulu.

Terbayang bukan garingnya seperti apa? Bihun kemudian disiram dengan saus ayam dan sayur. Seporsinya cukup banyak, bahkan bisa dinikmati empat orang sekaligus.
Tak kalah istimewa, menu loenpia brontak. Agak sedikit aneh memang namanya. Namun, tunggu hingga Anda melihat wujud aslinya. Tak seperti lumpia kebanyakan, lumpia yang satu ini tidak digulung sehingga isinya hanya diletakkan di atas kulit lumpia. Kulit lumpia digoreng garing dan berbunyi kresketika digigit. Isi lumpia, yang ditaburi di atas kulit, cukup menggoda lidah. Ada ayam, rebung, dan telur yang berpadu satu sehingga memunculkan sensasi rasa tersendiri di lidah.

Anda ingin makan dengan menu yang tidak berat? Anda bisa memesan roti bakar kaya. Maksudnya, roti bakar dengan selai srikaya. Seluruh sajian yang dibuat berdasarkan resep racikan pemilik restoran ini merupakan makanan yang biasa dinikmati sang pemilik restoran ketika kecil. "Makanya, kami ingin mengajak pengunjung untuk mengenang kembali masa dulu lewat masakan yang ditawarkan," ujar Rizal.

Restoran berkapasitas 74 orang ini bukan hanya menjual makanan. Demi menghadirkan kenangan masa lampau, pengelola restoran memajang aneka barang khas zaman dulu. Ada telepon antik, keramik, dan permainan tempo dulu seperti congklak. Aneka barang tersebut diletakkan di depan dan di dalam area restoran.
(Koran SI/Koran SI/tty)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.



image

Tidak ada komentar: