Rabu, 19 Mei 2010

“Menu Bakaran Korea Cita Rasa Indonesia” plus 2 more

“Menu Bakaran Korea Cita Rasa Indonesia” plus 2 more


Menu Bakaran Korea Cita Rasa Indonesia

Posted: 19 May 2010 01:37 AM PDT

SEJATINYA, Gang Gang Sullai adalah restoran Korea yang mengambil spesialisasi menu bakaran. Sesuai konsepnya, maka menu yang dihidangkan pun berasal dari Negeri Ginseng.

Gang Gang Sullai diambil dari nama sebuah permainan tradisional di Korea. Permainan tersebut kerap dilakukan oleh anak-anak ketika bulan purnama tiba. Itu sebabnya, logo Gang Gang Sullai diberi warna kuning yang berarti bulan purnama, juga merah dan biru yang memiliki makna anak-anak yang sedang main bersama sambil bergandengan tangan.

Sang pemilik, Sonja Suchyar, amat menyukai permainan yang menyerupai tarian itu. Alhasil, didirikanlah restoran barbeque Korea yang diberi nama Gang Gang Sullai.

"Gang Gang Sullai menunjukkan kebersamaan anak-anak yang sedang bermain di bawah terang bulan purnama," tandas Manajer Gang Gang Sullai Aris Irdana Sudarmadji.

Gang Gang Sullai bukan nama restoran baru di Jakarta. Restoran ini sudah lama dikenal, apalagi pengoperasiannya telah berlangsung sejak 1987. Kabarnya, keluarga kerajaan Brunai Darussalam termasuk pelanggan Gang Gang Sullai. Tiap kali ada anggota kerajaan sana yang datang ke Jakarta, Gang Gang Sullai pasti masuk dalam daftar destinasi kunjungan mereka.

"Jumlah keluarga kerajaan yang datang bisa sampai satu bus," imbuh Maksum, salah seorang pegawai Gang Gang Sullai yang sudah bekerja selama 13 tahun.

Aris menambahkan, walaupun ini merupakan restoran Korea, namun pelanggannya bukan hanya warga Korea. Pengunjung lokal pun ada, termasuk para mantan pejabat negeri ini.

"Bu Megawati dan Pak Harmoko dulu sering lho datang ke sini," cerita Aris.

Restoran yang memiliki pengunjung setia dari kalangan konsumen keluarga ini dikenal berkat sajian spesialnya berupa menu bakaran khas Korea, namun diolah sedemikian rupa sehingga sesuai dengan lidah orang Indonesia. Dengan kata lain, menu yang disajikan memiliki cita rasa khas Nusantara. Hanya nama dan cara penyajiannya yang diadopsi dari Negeri Ginseng.

"Menu berasal dari Korea, tapi rasanya sudah dimodifikasi," tandas Aris.

Sama seperti restoran yang menyajikan menu barbeque Korea lain, tiap meja di Gang Gang Sullai juga dilengkapi dengan alat memasak berupa kompor plus wadah untuk membakar daging. Pengunjung dipersilakan memasak menu pesanan mereka sendiri. Tingkat kematangannya tentu bisa disesuaikan dengan selera pribadi, mau dibakar hingga matang atau setengah matang.

Yang membedakan menu di Gang Gang Sullai dengan menu sejenis di restoran Korea lain adalah sausnya. Rasa saus di sini cenderung manis dan sudah ditaburi wijen. Sebagai rekomendasi untuk Anda, cobalah menu berlabel bulkoki barbeque yang terbagi dalam dua pilihan daging: daging sapi Amerika atau daging sapi Australia.

Untuk menikmati menu ini secara lengkap-ada daging, salad, kim chee, dan saus, Anda diharuskan membayar Rp85.000. Sekadar informasi, kim chee adalah hidangan yang disajikan dalam porsi kecil, berbahan dasar sawi putih dengan rasa asam dan pedas. Rasanya cukup menyegarkan karena disajikan dalam keadaan dingin.

Ada lagi menu bulkabi atau rusuk sapi, dengan pilihan rusuk sapi Amerika spesial seharga Rp145.000 dan rusuk sapi Amerika seharga Rp95.000. Selain itu, ada pula menu unik yang lumayan jarang ditemui di sini, yaitu hyu kui atau lidah sapi impor. Selain menu barbeque, Gang Gang Sullai juga menyediakan jenis Korean food yang lain, semisal tempura (udang goreng tepung), gang gang vegetable yang menyajikan tumisan daun ginseng, serta menu steam boat seperti shabu-shabu dan sukiyaki.

"Tumis daun ginseng menjadi menu sayur terfavorit di sini.Daun yang dipetik hanya bagian pucuknya. Menu ini bagus untuk kesehatan," jelas Aris.

Dari daftar menu minuman, cobalah children mocktail seperti mickey mouse yang menyajikan cola dengan topping es krim vanila dan whip cream serta minny mouse alias Fanta stroberi yang juga dicampur es krim vanila berikut whip cream.(Koran SI/Koran SI/ftr)


Five Filters featured article: The Art of Looking Prime Ministerial - The 2010 UK General Election. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.



image

Beda Lokasi, Beda Pilihan Menu

Posted: 19 May 2010 01:27 AM PDT

DEMI memenuhi selera dan keinginan pelanggan, Gang Gang Sullai terus mengembangkan sayap bisnisnya hingga ke beberapa tempat. Sampai saat ini Gang Gang Sullai sudah memiliki empat cabang, salah satunya berada di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Uniknya, keempat outlet itu mengusung konsep desain interior yang berbeda. Ambil contoh, di outlet Gang Gang Sullai cabang La Piazza, Kepala Gading, Jakarta Utara, pengunjung bakal mendapati sejumlah sangkar burung tanpa penghuni berwarna merah tergantung di atas area kasir. Juga kaca yang dibingkai dengan kayu, yang kehadirannya cukup menarik perhatian. Jika diperhatikan, ornamen tersebut tidak mencerminkan nuansa Korea sama sekali.

"Desain interior kami memang tidak mencirikan Korea karena di sini nuansanya adalah etnik modern Indonesia," kilah Manajer Gang Gang Sullai Aris Irdana Sudarmadji.

Keadaan yang tidak sama terjadi di tiga outlet Gang Gang Sullai lainnya. Meski berbeda konsep, kata Aris, namun perbedaan itu sebenarnya tidak terlalu kentara. Yang terlihat berbeda hanyalah kapasitas restoran.

Untuk outlet yang di Tanah Abang, Jakarta Pusat, kapasitas Gang Gang Sullai bisa mencapai 200 orang, sementara cabang di La Piazza hanya memiliki 80 tempat duduk. Gang Gang Sullai pertama kali didirikan di kawasan Cideng Timur, Jakarta Pusat. Lalu, outlet ini pindah ke daerah Tanah Abang 2, yang sekaligus menjadi restoran pusat Gang Gang Sullai.

Dari Tanah Abang, pemilik restoran mengembangkan sayap bisnisnya lagi ke selatan Jakarta, tepatnya ke kawasan Kuningan Village, kemudian La Piazza di Jakarta Utara, plus satu outlet yang mengambil tempat di Kota Semarang. Selain berbeda kapasitas, menu yang disajikan juga tidak sama.

Di Gang Gang Sullai La Piazza misalnya, Anda bisa menikmati paket menu all you can eat. Paket ini banyak dipilih karena cukup murah harganya. Dengan hanya membayar Rp80.000, Anda sudah bisa menikmati bulkoki (daging sapi), dak bulkoki (ayam), ojing o bulkoki (cumi), jap chae (tumis soun), salad, miso soup (sup tahu), bap (nasi), dan es krim.

"Dibandingkan dengan restoran barbeque lain, menu di Gang Gang Sullai bisa dibilang murah harganya," ujar Maksum, salah seorang staf restoran.

Satu hal lagi. Dengan membeli menu ala carte bulkoki Amerika, Anda bakal memperoleh satu porsi menu yang sama secara gratis. Sama halnya dengan varian menu, jam operasional di tiap outlet Gang Gang Sullai juga berbeda. Jam operasional standar restoran ini adalah pukul 10.30–14.30 WIB, tutup, lalu dibuka kembali pada 17.30–21.30 WIB. Sedangkan di La Piazza dan Kuningan Village, restoran ini buka nonstop sejak pukul 11.00 hingga 23.30 WIB.

Salah seorang pengunjung, Nina Husain, mengaku sudah menjadi pelanggan Gang Gang Sullai sejak lama. Sedari kecil, orangtua Nina sudah mengenalkan restoran ini kepada dia dan adik-adiknya. Dan sekarang, giliran wanita berusia 33 tahun itu yang kerap mengajak anaknya makan di sini.

"Saya sudah menjadi pelanggan sejak kecil. Tapi berhubung rumah saya di Kelapa Gading, jadi saya memilih makan di La Piazza saja. Apalagi di sini ada paket all you can eat-nya, lebih murah,"ujar wanita berdarah Jawa itu.(Koran SI/Koran SI/ftr)


Five Filters featured article: The Art of Looking Prime Ministerial - The 2010 UK General Election. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.



image

Ornamen Berbau Maskulin

Posted: 18 May 2010 01:07 AM PDT

PENGELOLA mal lazim melengkapi tempat usahanya dengan beragam fasilitas, semisal restoran ataupun kafe. Seperti dilakukan pengelola Pasaraya, Blok M, Jakarta Selatan, yang membangun sejumlah tempat makan di dalam mal, seperti Rivals Café.

Kafe yang berlokasi di lantai 1 Pasaraya ini dibangun untuk memanjakan pengunjung mal yang ingin mencari tempat istirahat setelah lelah berbelanja. Sesuai konsepnya, Rivals Café yang menampung kapasitas 70 tempat duduk, mendesain interiornya dengan unsur-unsur yang maskulin. Ambil contoh, kursi bar berwarna hitam yang modelnya mirip tempat duduk motor Harley Davidson. Atau ada juga ornamen berupa poster-poster olahraga.

Menurut Manajer Eksekutif Rivals Café Andi Harris, desain kafe ini merupakan buah karya seorang desainer interior. Pihaknya sengaja menyewa jasa profesional demi mendapatkan kesan laki-laki pada ruangan kafe. Salah satu cerminannya adalah furnitur dan aksesori yang terbuat dari kayu dan besi.

"Kayu dan besi kan termasuk material yang kuat," ujar Andi.

Selain itu, dari segi hidangan, porsi yang disediakan pun disesuaikan dengan "perut laki-laki" yang umumnya sanggup melahap makanan dalam porsi besar. Dalam hal pemilihan kursi, Rivals Café mengusung tiga model tempat duduk. Semua disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung.

"Jadi, kalau ada pengunjung yang ingin sekadar minum, bisa duduk di bagian tengah. Jika ingin bersantai dengan keluarga, boleh memilih sofa yang berada di paling pinggir kafe dekat dinding kaca. Sementara Anda yang ingin nongkrong bersama teman bisa memilih kursi berbahan kulit yang letaknya berada di sebelah kanan kafe," papar Andi.

Rivals Café juga menyediakan beragam fasilitas di antaranya Wi-Fi gratis dan musik.

"Jadi, sambil menikmati makanan dan minuman, pengunjung bisa sekaligus mendengarkan alunan musik serta bermain internet," ujar Andi.

Pada masa mendatang, pengelola kafe berencana menyediakan layar lebar untuk memfasilitasi tamu yang ingin menyaksikan pertandingan Piala Dunia 2010 di tempat ini.

Soal fasilitas yang lain, Rivals Café menyediakan meeting room berkapasitas 10 orang. Ruangan ini dilengkapi layar proyektor sehingga dapat memudahkan proses pertemuan.(Koran SI/Koran SI/ftr)


Five Filters featured article: The Art of Looking Prime Ministerial - The 2010 UK General Election. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.



image

Tidak ada komentar: