Senin, 01 November 2010

“Mengenal Masakan Khas Yogyakarta” plus 1 more

“Mengenal Masakan Khas Yogyakarta” plus 1 more


Mengenal Masakan Khas Yogyakarta

Posted: 01 Nov 2010 12:04 AM PDT

SIAPA yang tidak kenal dengan masakan khas Yogyakarta yang satu ini. Ya, gudeg merupakan makanan khas yang banyak menarik minat orang. Rasanya yang khas dan manis sehingga membuat orang mudah ingat dengan makanan yang satu ini, bahkan merindukan kota pelajar tersebut. Gudeg adalah buah nangka muda atau dikenal dengan sebutan gori. Nangka muda ini direbus di atas tungku sekitar 100 derajat Celsius selama 24 jam untuk menguapkan kuahnya.


Sebagai lauk pelengkap, digunakan daging ayam kampung dan telur bebek dipindang yang kemudian direbus. Adapun rasa pedas merupakan paduan sayur tempe dan sambal krecek. Gori atau nangka muda adalah bahan baku utama gudeg yang lebih umum dikenal.

Pada masa lalu, bahan baku ini sangat mudah diperoleh di kebunkebun milik masyarakat Yogyakarta. Zaman dahulu, orang Yogyakarta hanya mengenal satu jenis gudeg, yakni gudeg basah. Adapun gudeg kering baru dikenal setelahnya, yakni lebih dari 50 tahun dari saat sekarang ini.

Dikenalnya gudeg kering terjadi ketika orang-orang dari luar Yogyakarta mulai membawanya sebagai oleh-oleh. Keuntungannya, gudeg pun tumbuh sebagai sebuah home industry makanan tradisional di Yogyakarta. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta dan rasanya kurang lengkap jika belum menyantap gudeg di tempat ini.
 
Tidak hanya rasa, juga kemasan. Gudeg yang kemudian dianggap sebagai salah satu oleh-oleh khas Yogyakarta ini dikemas semenarik mungkin dengan menggunakan besek atau tempat dari anyaman bambu. Ada juga yang mengemas gudeg dengan menggunakan kendil (guci dari tanah liat yang dibakar).
 
Gudeg sebagai oleh-oleh ini yang disajikan adalah gudeg kering agar tidak lekas basi. Di banyak restoran di Yogyakarta, tersedia besek atau kendil untuk membawa gudeg sebagai oleh-oleh. Melengkapi sajian nasi gudeg, akan lebih pas disertai minuman teh gula batu. Dijamin Anda akan ketagihan.
(SINDO//tty)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Lezatnya Tongseng Hotel Melawai

Posted: 31 Oct 2010 11:26 PM PDT

INGIN merasakan kekhasan kuliner Nusantara dari daerah Jawa? Tidak salah jika Anda bertandang ke Hotel Melawai. Selama bulan November ini, hotel yang sudah berusia lebih dari 30 tahun tersebut menyajikan promosi sejumlah hidangan Nusantara.


Hidangan yang diangkat pada bulan ini, di antaranya empul gepuk dan nasi tongseng. Executive Chef Hotel Melawai Agus Sjarief mengatakan, setiap bulan hotel tersebut menyajikan promosi hidangan makanan dari penjuru Nusantara. Bulan kemarin nasi bebek merupakan menu yang diangkat beserta ayam taliwang yang merupakan masakan dari Sumbawa.

Nah, pada bulan ini, Agus ingin menampilkan sajian berupa daging, tetapi bukan berupa steak. Hal itu mempertimbangkan karena tamu hotel kebanyakan orang lokal. Jadi, sajian steak yang digemari lebih bernuansa keindonesiaan, seperti bistik Parahyangan yang dibuat oleh Agus. Tidak jauh berbeda dengan bistik Jawa, namun dengan gaya Sunda. Rasanya lebih gurih, pedas bukannya manis seperti bistik Jawa.

Agus lalu muncul dengan ide menghadirkan empal gepuk lengkap dengan nasi dan lauknya. Empal gepuk ini disajikan dalam sebuah piring anyaman dengan nasi, tahu, tempe goreng, jambal goreng, lalapan, dan sambal terasi. Daging empalnya empuk dan kaya bumbu, apalagi ditambah dengan serundeng di atasnya yang menjadikannya lebih gurih.

Ada lagi nasi tongseng. Tongseng disajikan di mangkuk besi dengan penghangat di bawahnya. Jadi, dijamin tongseng yang Anda makan tetap terjaga kehangatannya. Beda dengan tongseng yang biasa kita makan.

Tongseng ini tidak menggunakan kecap saat dimasak. Kuahnya berwarna kuning. "Kecapnya dipisah, tapi kami tetap menyediakan tongseng ini dengan kecap. Sebab, selera tamu kan berbeda," kata Agus.
 
Sambil makan tongseng, ada kerupuk yang menemani. Kalau ingin menambah rasa, disediakan sambal, jeruk limau, dan bawang goreng, di samping kecap tentunya. Lengkap sudah sajian tongseng ini. Potongan daging kambing pun disajikan cukup banyak, tetapi hati-hati tergigit cabai rawit merah yang juga cukup banyak berada dalam kuah tongseng.

Agus mengatakan, mengolah daging kambing tidak bisa sembarangan. Ada trik khusus sehingga daging tidak berbau ketika sudah dimasak dan lebih empuk. Daging kambing tidak boleh sedikit pun terkena air.
 
Jadi, tidak perlu dicuci, melainkan cukup dibalut dengan daun pepaya selama 15-30 menit, tanpa dipotong terlebih dahulu. Daun pepaya inilah yang akan menghilangkan bau sekaligus menjadikan tekstur daging lebih empuk. Jika daging sudah dipotong lebih dulu, daging malah akan menjadi terlalu lembek nantinya.
 
"Tapi jangan terlalu lama juga membungkus dengan daun pepayanya, nanti daging bisa ikut menjadi pahit," kata Agus mengingatkan. Mengapa tidak boleh terkena air? Agus menjawab, daging akan menjadi berbau prengus. Sebaiknya, Agus menyarankan, untuk menggunakan daging yang masih segar. Apabila sudah disimpan dalam freezer, darah di daging akan berkurang, seratnya menjadi menciut dan tidak lagi juicy.

Alhasil, daging tidak maksimal menyerap bumbu. Agus mengatakan, daging kambing yang digunakan untuk pembuatan tongseng tersebut masih segar. Ia mendapatkan daging yang baru dipotong pada pagi hari dari pihak supplier. Karena daging sudah dibungkus dengan daun pepaya, maka tidak perlu waktu lama untuk memasak.
 
Adapun untuk pembuatan tongseng ini, Anda bisa memilih menggunakan santan instan yang banyak di pasaran. Dibandingkan menggunakan kelapa utuh yang harus diperas lagi, santan instan tentu lebih praktis dan terjaga higienitasnya. Agus lebih suka menggunakan santan instan, di samping mudah menggunakannya, pengguna juga bisa mengatur kekentalan yang diinginkan. Apakah mau kental atau encer ataupun sedang. Kekentalan sedang yang digunakan untuk membuat tongseng ini.
 
Kenyang menyantap masakan berat, giliran memanjakan perut dengan hidangan penutup. Anda bisa memesan gulali Melawai atau kue bolu berwarna kuning dan merah muda. Di atas kue ini disiram saus cokelat. Dan, di setiap lapisannya diselipkan buah yang diiris tipis seperti pepaya dan nangka. Untuk minumnya, Anda harus mencoba coffee bleshake, minuman ini terdiri atas susu, simple syrup, yang dicampur kopi kental.
 
Segarnya minuman ini karena menggunakan es batu yang sudah diblender. Bleshake sendiri merupakan singkatan dari blend dan shake, di atas kopi diberi kopi bubuk sebagai garnish. Tidak suka kopi? Bisa meminta teh bleshake. Tertarik mencoba?
(SINDO//tty)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

1 komentar:

Japanese House mengatakan...

seep. nice info for us

hv a nice day prend