Jumat, 31 Desember 2010

Gurih Gulai Kacang Ijo Siap Menggoyang Lidah pasti siip

Gurih Gulai Kacang Ijo Siap Menggoyang Lidah pasti siip


Gurih Gulai Kacang Ijo Siap Menggoyang Lidah

Posted: 30 Dec 2010 09:49 PM PST

UMUMNYA, gulai berbahan daging. Namun, di sudut lain kota Surabaya, gulai berbahan kacang hijau. Cara menyantap gulai kacang ijo tidak dengan nasi melainkan roti maryam dan sate kambing.

Masakan gulai kacang hijau terkenal di kawasan Wisata Religi Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Para peziarah bisa mampir mecicipi gurihya gulai yang juga dikenal dengan sebutan gulai maryam ini. Nikmatnya gulai kacang hijau merupakan gabungan resep dari India dan Madura.

"Gulai kacang hijaunya buatan orang Madura dan roti maryamnya sejenis roti cane dari India," kata Buchori, salah seorang penjual saat ditemui di kawasan Wisata Religi Sunan Ampel, Surabaya, belum lama ini.

Gulai kacang ijo merupakan jenis makanan berat di mana gulai kambing dengan kuah yang kental dimasak dengan kacang ijo tanpa daging kambing di dalamnya.

"Daging ada pada sate kambingnya.Satenya tidak dibakar, tapi potongan daging yang sudah ditusuk dengan batang bambu sate, direbus bersama adonan gulainya, jadi merupakan sate rebus," ungkapnya.

Saat menikmati makanan ini, akan lebih nikmat dengan tangan telanjang. Sensasi tangan yang basah saat memegang batang sate yang sudah terlebih dulu terendam gulai, dipadu roti maryam super (ukuran besar), yang cara makannya disobek lalu dicocolkan ke kuah gulai.

Untuk harga sangat pas dengan kantong. Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp10 ribu saja, sudah cukup kenyang. Harga tersebut sudah termasuk sepiring gulai kacang hijau dan teh hangat. Satu piring gulai kacang hijau dihargai Rp3.500, gulai dengan sumsum dan tulang Rp4.500, bila dengan tiga tusuk sate kambing rebus semuanya menjadi Rp7.500.

Selain rasanya yang gurih menggoyang lidah, gulai kacang hijau dipercaya mampu menambah stamina. Rasa gurihnya sangat digemari penduduk Arab di Kawasan makam Sunan Ampel.

Buchori mengaku, sudah bertahun-tahun menggeluti bisnis ini. Ia meneruskan usaha almarhum ibunya, Sawati, yang berasal dari Bangkalan, Madura. Ibunya sendiri merupakan karyawan pemilik usaha ini pada 1963 dari warga keturunan India yang sudah masuk Islam.

Lalu pada 1970-an atau setelah majikannya berhenti usaha, Sawati melanjutkan usaha hingga kini diteruskan ke putranya. Kini, Buchori sudah punya dua warung, sederhana namun telah memiliki tujuh pegawai.

Setiap hari, ia menghabiskan 50 kilogram terigu dan 30 kilogram daging kambing, yang masing-masing diolah menjadi lebih dari 2.000 roti maryam dan 1200 tusuk sate kambing.

Penasaran dengan gulai kacang Ijo dan roti maryam, sempatkan mampir ke warung milik Buchori jika berziarah ke kawasan Wisata Religi Sunan Ampel, Surabaya. Tentu, sensasi lengket di jari, gurih gulai yang hangat, kacang hijau, sate rebus yang empuk, plus minyak samin, membuat kita merasa menjadi bagian dari kampung Arab kuno-Ampel di tengah hiruk pikuk metropolitan Surabaya.(ftr)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured site: So, Why is Wikileaks a Good Thing Again?.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Tidak ada komentar: