Selasa, 14 Desember 2010

“Warna-warni Kuliner Jakarta” plus 2 more

“Warna-warni Kuliner Jakarta” plus 2 more


Warna-warni Kuliner Jakarta

Posted: 14 Dec 2010 02:33 AM PST

JAKARTA menawarkan ribuan restoran yang letaknya tersebar di berbagai wilayah. Di kota metropolitan nan luas ini, restoran internasional dan tradisional terbaik Indonesia dapat ditemui.

Nilai plus restoran tak hanya terletak pada sajian lezat, tapi juga bangunan unik peninggalan masa kolonial yang elegan dan menambah suasana nostalgia saat bersantap. Beberapa di antaranya Restoran Oasis di Jalan Raden Saleh, Bunga Rampai di Jalan Tjik Ditiro, Jittlada Thai di Jalan Sultan Agung, dan Cafe Batavia di Jalan Fatahillah.

Selain itu, hotel-hotel berbintang Jakarta juga memiliki restoran dengan sajian beragam, mulai dari makanan Jepang sampai Western food, sebut saja steak, roast beef, salad, chocolate cake, kopi beraroma, dan sebagainya.

Ada juga mal yang dapat memanjakan para penikmat kuliner lewat food court-nya, atau bistro, kafe, dan restoran fast food. Semaunya siap memenuhi selera ribuan pegawai yang kantornya dekat dengan mal, orang yang belanja, ataupun mereka yang menonton film yang memenuhi Cineplex mal.

Kawasan surga makanan lainnnya adalah Kemang di Jakarta Selatan. Kemang bagaikan sebuah dunia kecil tersendiri di mana terdapat restoran internasional dan restoran berkelas lain yang menyajikan makanan Italia, India, China, Indonesia, atau Belanda. Dan, jangan khawatir jika budget Anda terbatas, karena di sekitar kawasan ini, Anda dapat menemukan restoran sederhana dan warung makanan.(ftr)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured site: So, Why is Wikileaks a Good Thing Again?.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Gonggong dan Pembangkit Hormon

Posted: 14 Dec 2010 02:05 AM PST

DI Kepulauan Riau, gonggong merupakan makanan khas yang sekilas mirip dengan keong. Dalam bahasa latin, gonggong dikenal sebagai Strombus Canurium (ganus) dan masih tergabung dalam famili atau rumpun molusca.
 
Makanan khas ini merupakan sejenis kerang-kerangan yang banyak terdapat di perairan sekitar Kepulauan Riau. Karena itu, gonggong hanya tersedia di beberapa restoran makanan laut atau di tempat pusat jajan. Masyarakat Tanjung Pinang menyebut tempat tersebut dengan nama Akau (open air restaurant). Lokasinya sendiri berada di kawasan Potong Lembu.
 
Tidak diketahui pasti kapan gonggong menjadi makanan khas dari kepulauan yang dahulu disebut Negeri Segantang Lada ini. Namun, bagi masyarakat Kota Tanjung Pinang, makanan ini sudah dikenal sejak era tahun 1950-an, sejak daerah ini masih menggunakan mata uang dolar Singapura.
 
Dari sekian banyak penjual gonggong, salah satu yang sangat terkenal adalah Lek Ah Sun (67), pria keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Tanjung Pinang ini mulai berjualan sejak awal 1960 di Akau Jalan Pos Tanjung Pinang. Tapi seiring ditetapkannya Tanjung Pinang menjadi Ibu Kota Kepulauan Riau, ia mulai berpindah-pindah, dan kini membuka warung tenda di Akau Potong Lembu.
 
Menariknya, warung tendan Lek Ah Sun, hanya buka saat sore dan tutup saat tengah malam. Kenapa tidak siang? Sebab, pada pagi hingga petang lokasi Akau Potong Lembu dipakai sebagai tempat parkir mobil truk angkutan barang.
 
Saat dibuka, warung tenda miliknya hanya diisi selembar meja yang dilapisi aluminium berukuran 3 x 2 m. Untuk menjaga jika hujan turun, pada sisi dan kanan meja tersebut ditancapkan sebatang kayu penyangga tenda. Di tengah tenda sendiri dipasang sebuah lampu neon berkekuatan 10 watt.
 
Sementara di depan meja dipajang sederetan gonggong yang masih mentah dalam piring lonjong melamin. Setiap piring terisi 20 gonggong. Dan pada sisi sebelah kiri meja , terdapat kompor gas minyak tanah yang diatasnya sudah didudukkan panic berdiameter 40 cm untuk merebus gonggong.
 
"Waktu pertama pindah di Akau Potong Lembu, dagangan gonggong saya laris. Satu malam sampai menghabiskan 50 piring. Karena waktu itu belum banyak orang yang berjualan gonggong disini. Tapi sekarang sudah banyak yang jual, satu malam saya hanya bisa jual 10 piring saja." ujar Lek Ah Sun.
 
Untuk membuat gonggong, Lek Ah Sun merebusnya dengan keranjang bambu. Namun sebelum itu, air rebusan terlebih dahulu dibubuhi garam dan jahe. Ini untuk mengurangi bau amis pada gonggong. Setelah itu, dalam hitungan menit, gonggong akan matang. Kematangan ditandai dengan keluarnya kaki gonggong dari cangkangnnya.
 
Gonggong kemudian dihidangkan bersama semangkuk kecil sambal. Tapi sebelum dihidangkan, Lek Ah Sun menaburi sajian ini dengan tumbukan kacang tanah dan beberapa batang tusuk gigi. Tusuk gigi tersebut diperlukan untuk mencongkel daging gonggong dari cangkangnya.
 
Untuk satu porsi gonggong, Lek Ah Sun mematok harga Rp20 Ribu dengan perhitungan satu ekor gonggong dihargai seribu rupiah.
 
Tak hanya lezat, kandungan gizi yang dimiliki gonggong juga tinggi. Hal ini diakui oleh Akin (32) salah satu pelanggan Lek Ah Sun.
 
"Manfaat gonggong yang paling baik adalah bagi orang-orang muda karena dagingnya mampu merangsang pertumbuhan hormon, terutama yang menyangkut dengan vitalitas seksual," ujarnya.
 
Keberadaan hidangan gonggong tak lepas dari peran para nelayan di beberapa wilayah Kepulauan Riau. Dari pantai, nelayan mengumpulkan gonggong untuk kemudian dijual ke restoran atau kepada Lek Ah Sun. Mereka mengumpulkan gonggong ini secara musiman dan dilakukan tatkala air laut surut.
 
Menurut salah seorang nelayan, Chidir (31), pada musim gonggong dirinya bisa mengumpulkan 100-200 ekor setiap harinya. Namun jika tidak sedang musim, ia hanya dapat mengumpulkan gonggong 30 ekor saja.
 
Chidir kemudian menyebut ada 4 jenis gonggong yang semuanya dapat dikonsumsi. "Mulai gonggong ayam (sebutan nelayan) berukuran kecil dan berwarna hitam, gonggong cangkang tipis berwarna putih, gonggong bercangkang tebal warna putih, dan gonggong merah bercangkang tebal, yang keseluruhan jenis itu dapat dimakan," ujar Chidir yang tinggal di Kawasan Teluk Keriting, Tanjung Pinang.
 
Cerita diintisari dari buku "Jejak Kuliner Indonesia" oleh JNE.
(tty)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured site: So, Why is Wikileaks a Good Thing Again?.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Ikan Keumamah, Tradisi Makan Para Pejuang

Posted: 14 Dec 2010 01:54 AM PST

PEKARANGAN rumah Nuraini (32), di Desa Lampulo, Aceh Besar, tidak dirindangi pohon-pohon. Namun lebih dihiasi dengan jemuran ikan kayu di halaman rumahnya. Dan dari atas para-para bambu, Nuraini sibuk mengumpulkan ikan tongkol yang sudah tercincang dan mengering akibat sinar matahari, sejak dua hari lalu.
 
"Ikan yang sudah dijemur ini yang disebutkan ikan kayu," ujar Nuraini.
 
Ikan kayu, dalam bahasa Aceh disebut eungkot keumamah, yang berarti ikan tongkol yang diiris kecil-kecil seukuran dua jari sebelum dijemur. Pengeringan secara alami ini dapat dilakukan selama seminggu atau lebih agar ikan kaku dan kenyal. Agar lebih tahan lama, keumamah dilumuri tepung tapioka atau digoreng.
 
"Ikan ini nanti dikasih tepung tapioka, sehingga ikan ini bisa jadi awet lagi. Setelah sampai setahun pun kita simpan, ikan ini bisa dijemur lagi," tambahnya.
 
Keumamah adalah makanan khas Aceh yang dapat dimakan langsung. Tapi agar lebih nikmat, sebaiknya dimasak atau digoreng terlebuih dahulu untuk kemudian dijadikan lauk nasi.
 
Membuatnya pun tidak sulit. Cukup bersihkan ikan tongkol, lalu rebus bersama daun belimbing atau daun nangka dalam kuali besar. Dedaunan tersebut akan menimbulkan keharuman tersendiri. Setelah masak, buang kepala ikan. Tapi sebelum dijemur, perciki dulu ikan dengan minyak goreng agar daging tidak terpecah. Sinar matahari dapat membuatnya cepat kering, tidak berbau, dan akan membuat tulangnya empuk dan dapat dimakan, seperti ikan sarden.
 
Memasak keumamah sendiri terbagi atas 2 pola, yaitu keumamah tumeh (tumis) dan keumamah leumak (lemak). Keduanya tidak saja menghasilkan perbedaan rasa, tetapi juga perbedaan tingkat ketahanan atau keawetan.
 
Di Banda Aceh, banyak warung yang menjual makanan khas ini, salah satunya Rumah Makan Spesifik Aceh, yang berada di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Peunayong, Banda Aceh.
 
Menurut Ihsan, koki sekaligus pengelola rumah makan tersebut, tak ada yang spesial dari bumbu keumamah tumis. Bahan dasar yang dipergunakan hanya empat, yakni minyak goring, bawang merah, cabai hijau dan sedikit cengkeh. Sedangkan rasa pedas dan asam manis dihasilkan dari bumbu yang merupakan hasil campuran garam, jeruk nipis, asam sunti, cabai rawit serta kunyit.
 
"Mudah kok memasaknya," tutur Ihsan yang menjual 1 porsi keumamah tumis seharga Rp10 ribu.
 
Sebelum ditumis, kata Ihsan, campur bumbu terlebih dahulu dengan ikan kayu yang telah dibersihkan dari tepung. Setelah diaduk hingga bumbu meresap, baru tumis ikan dengan bumbu selama 10 menit. Dan keumamah siap disajikan.
 
Karena bisa bertahan 2 hari tanpa dipanaskan, keumamah tumis dapat dijadikan buah tangan. Sejarah makanan ini juga terkait dengan daya tahan yang dimiliki keumamah. Karena mampu bertahan lama, kuliner ini menjadi logistik khusus pasukan Aceh saat berperang melawan Belanda 6 abad silam. Keumamah menjadi pengganjal perut pejuang yang bergerilya dari satu lokasi ke lokasi lain.
 
"Ikan kayu adalah logistik yang penting bagi orang Aceh saat perang Aceh dulu," ujar Nuraini berdasarkan cerita-cerita dari orangtuanya.
 
Di samping itu, keumamah lemak juga sudah lama dikenal di Aceh. Serupa dengan keumamah tumis, kekuatan menu ini terletak pada santan. Meracik kuah ini juga tidak rumit. Bahan dasarnya lebih didominasi oleh sayuran, seperti kunyit, cabai hijau, dan jagung setengah matang yang sudah dipotong sebesar 3 cm. Setelah itu barulah ikan kayu dicampur ke dalam kuah khas Aceh ini.
 
Keumamah lemak banyak tersebar di rumah-rumah makan di bumi Serambi Makkah. Namun demikian, ada sentuhan berbeda yang dilakukan oleh Rumah Makan Spesifik Aceh dibanding rumah makan lain. Karena keumamah lemak dicampur dengan telur bebek. Setelah dicampur ke dalam kuah, agar tak pecah, telur bebek tidak lagi diaduk. Telur bebek hanya dicelup ke dalam kuah selama 5-7 menit. Keumamah lemak pun siap disajikan.
 
Berbeda dengan keumamah tumis, keumamah lemak tidak memiliki tingkat keawetan. Makanan yang dihargai Rp15 ribu per porsi ini hanya mampu bertahan 1 hari saja.
 
Cerita diintisari dari buku "Jejak Kuliner Indonesia" oleh JNE.
(tty)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured site: So, Why is Wikileaks a Good Thing Again?.



image

Tidak ada komentar: