Rabu, 23 Maret 2011

“Cicip Street Food ala Jepang” plus 1 more

“Cicip Street Food ala Jepang” plus 1 more


Cicip Street Food ala Jepang

Posted: 23 Mar 2011 12:20 AM PDT

INGIN mencicipi jajanan pinggir jalan ala Jepang? Jika ya, segera singgahi Tokio Kitchen. Di tempat ini, Anda bakal disuguhi aneka penganan yang lazim dijajakan di pinggir jalan di Negeri Sakura.


Tokio Kitchen adalah restoran bergaya Jepang yang terletak di lantai 2 Mal Central Park, Jakarta. Tempat makan ini menyuguhkan hidangan yang tidak biasa, yakni sajian khas yang biasa dijumpai di pinggir jalan di Jepang. "Di Tokio Kitchen, ada 10 station yang bisa dipilih sesuai selera," kata CEO Urban Concept Indonesia Andrew Santoso, dalam acara pembukaan Tokio Kitchen, beberapa waktu lalu.
 
Tokio Kitchen menyajikan sedikitnya 200 menu yang memang terbagi dalam 10 station.
Jenis hidangannya beragam, mulai tradisional sampai fusion atau modern. Termasuk aneka hidangan yang belum pernah hadir di Jakarta sebelumnya.
 
Station yang dimaksud, di antaranya Agemono. Di sini Anda bisa mencoba spicy kimchi miso nabe yang kaya rasa. Ada lagi ebi tempura dan beef cheese balls yang disajikan bersama saus mayones nan lezat. Pencinta ramen dapat mencicipi spicy tuna mabo tofu, angel hair cha soba, dan spicy maguro ramen. Rasa kuah kental dan kuat yang berpadu dengan bumbu khas Jepang akan membuat Anda tergoda oleh kelezatan menu-menu tersebut.
 
Jika Anda suka pada kelembutan salmon, maka cicipi tokio salmon chanchan yang ada di station teppanyaki. Balutan saus spesial dengan sayuran segar akan menambah sensasi kenikmatan hidangan ini. "Ini akan menjadi hidangan yang sempurna dan penuh cita rasa untuk dinikmati di tengah kesibukan kota," ungkap Andrew.
 
Berbicara tentang hidangan Jepang, belum afdal rasanya jika tak merasakan menu sushi yang kerap diidentikkan dengan Negeri Matahari Terbit. Di station sushi, Anda bakal menemukan sushi bar yang menyediakan aneka jenis sushi seperti dragon roll. Adapun yang unik, di Tokio Kitchen, sushi disajikan di atas tempat yang tampilannya mirip kapal layar dalam ukuran mini.
 
Untuk pencinta hidangan bernuansa Western namun diracik dengan gaya Jepang, pengelola menghadirkan western station.
Di restoran berkapasitas 380 tempat duduk ini, Anda bisa menemukan dan menikmati aneka jenis burger, pizza, dan pasta.
 
"Cicipi pasta seperti spicy tomato grill chicken pasta atau tokio carbonara mushroom. Pasti Anda akan ketagihan untuk datang ke sini," timpal Advertorial & Promotion Manager Tokio Kitchen Natasha Utamilia.
 
Tidak berhenti di sajian Western, di station the hot dog tersedia aneka pilihan menu, di antaranya japadog, teriyakidog, okonomidog, dan super premium cheese burger.
 
Adapun aneka hidangan penutup tersaji di depan pintu masuk Tokio Kitchen. Sama seperti station lain, di sini hidangan penutup juga memiliki varian yang cukup banyak, misalnya crepes dengan topping buah peach, pisang, kiwi, blueberry jam, chocolate ice cream, dan cinnamon.

Di bagian minuman, ragam varian es krim berbahan dasar ogura seperti tokio sky tower akan menjadi pilihan yang menyenangkan. Minuman yang merupakan kombinasi antara es krim teh hijau dengan alpukat, pisang, stroberi, dan whipped cream ini patut dicoba.

"Semua makanan yang ada di Tokio Kitchen diolah dari bahan dasar yang masih segar dan diimpor langsung dari Jepang," imbuh Andrew.
 
Andrew juga mengatakan, Tokio Kitchen tidak menggunakan bahan makanan beku yang diproses. Semua bahan segar akan diolah menjadi masakan spesial yang pasti dicintai para pengunjung. Itu sebabnya, setiap station menggunakan konsep open kitchen agar pengunjung dapat melihat secara langsung proses pembuatan menu yang dipesan.
 
"Misalkan di gerai yang menyediakan chicken katsu, kami membuat sendiri dari nol. Bukan membeli jadi yang tinggal digoreng saja," ujar Andrew.
 
Street food tersebut bisa Anda nikmati tanpa harus terbang ke Jepang, juga tanpa harus mengeluarkan kocek yang banyak. Sebab, di sini semua masakan tersaji dengan harga yang cukup murah, berkisar antara Rp9.000-Rp65.000.
(SINDO//tty)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Kedai Imah Monyet, Surga Penikmat Pisang

Posted: 22 Mar 2011 10:55 PM PDT

BOSAN mengonsumsi pisang yang biasanya hanya diolah dalam pisang goreng? Kedai Imah Monyet di Subang, Jawa Barat, menantang Anda berpetualang dengan berbagai macam menu berbahan baku pisang.

Warung makan yang terletak di Jalan S. Parman, Subang, Jawa Barat ini menyajikan berbagai olahan pisang dengan cita rasa menarik, seperti cabul atau cau bule, monkey banana split, dan es pisang ijo.

Salah satu sajian yang patut dicoba karena menjadi favorit pengunjung adalah cabul atau cau bule. Cara penyajian menu satu ini cukup sederhana.

Pertama, pisang yang telah dikupas digoreng hingga matang, angkat, lalu taburi meises cokelat dan keju parut. Bisa juga ditambah krim vanilla dan taburan gula berwarna, kacang, ataupun stroberi untuk menambah kelezatannya.

Selain cau bule, menu yang juga menjadi favorit adalah es pisang ijo. Soal rasa, sudah pasti menyegarkan. Es pisang ijo terasa nikmat karena pisangnya dicampur bubur sum-sum yang manis, roti, sirup, ditambah dengan susu. Menikmati menu es pisang ijo ini bisa membuat perut terasa kenyang.

Menurut Fauzi Nugraha, pemilik kedai, pemilihan nama Imah Monyet sendiri karena namanya yang unik. Selain itu, menu yang disajikan ada hubungannya dengan nama kedai ini.

"Nama Imah Monyet dipilih karena selain namanya yang unik, juga ada hubungannya dengan menu yang kita sajikan, yaitu pisang yang merupakan makanan kesukaan monyet. Meskipun, ada juga yang kontra dengan pemilihan nama ini," katanya saat ditemui di kedainya, Rabu (23/3/2011).

Sementara itu, yang membuat tempat ini selalu ramai dikunjungi konsumen, adalah letaknya yang di luar ruangan, tepatnya di pinggir jalan kota Subang sehingga memudahkan akses menuju kedai Imah Monyet.

Dan, soal harga, hanya dengan merogoh kocek Rp7500-Rp10 ribu, satu porsi menu pisang sudah bisa Anda nikmati.(Yudy Heryawan Juanda/SUN TV/ftr)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Tidak ada komentar: