Senin, 14 Maret 2011

Meneropong Perjalanan Sejarah Semur pasti siip

Meneropong Perjalanan Sejarah Semur pasti siip


Meneropong Perjalanan Sejarah Semur

Posted: 14 Mar 2011 04:10 AM PDT

INDONESIA memiliki banyak makanan khas. Salah satunya semur, yang ternyata memiliki perjalanan sejarah cukup panjang, tepatnya sejak tahun 1600-an.

Siapa tak kenal semur? Rasanya mayoritas masyarakat Indonesia pernah mencicipinya. Namun, tidak semua orang tahu bahwa makanan berkuah cokelat dan berasa manis-gurih itu "terlahir" setelah melewati serangkaian peristiwa berabad-abad silam.

Menurut praktisi kuliner Chef Ragil Imam Wibowo, cikal- bakal semur bermula dari sebuah menu bernama hachee, yang dulu merupakan santapan khusus kaum bangsawan Belanda. Kita tahu, Indonesia pernah dijajah oleh Belanda selama 3,5 abad.

Selama itu pula pengaruh budaya Negeri Kincir Angin, khususnya di bidang kuliner, merasuk ke diri orang Indonesia. Hachee yang berbahan baku daging, mentega, kaldu daging, air, bawang, daun salam, cengkih, garam, lada, dan cuka itu menarik minat nenek moyang kita. Hal itu kemudian mendorong mereka untuk berkreasi menciptakan makanan yang sekarang dikenal dengan nama semur.

"Jadi, sebenarnya sejak dulu bangsa Indonesia itu kreatif. Berawal dari keinginan orang kita untuk mencicipi makanan yang sering disantap oleh bangsa penjajah, maka lahirlah semur," kata Ragil dalam diskusi bertema "Semur, Turun- Temurun Menghangatkan Hati Keluarga Indonesia" di Jakarta, belum lama ini.
 
"Dulu kan orang pribumi dan penjajah kelasnya jauh. Mereka tidak bisa makan hachee. Mereka hanya dapat melihat 'oh warnanya cokelat, rasanya begini', maka dicarilah rempah-rempah yang bisa menghasilkan warna serta rasa yang diinginkan itu.

Jadi, bisa dibilang semur terlahir dari hasil imajinasi nenek moyang kita," tambah Ragil.
 
Meski terinspirasi dari hachee, namun semur bukanlah hachee. Rasa dua makanan tersebut, menurut Ragil, sangat berbeda. Termasuk bahan dan bumbu yang digunakan di dalam semur, semua berasal dari rempah-rempah asli Indonesia.
 
"Warna cokelat pada hachee berasal dari brown stock, yang dibuat dari tulang sapi yang dibakar.
Rasa hachee juga agak asin. Sementara kalau semur cokelatnya berasal dari kecap manis, jadi rasanya manis- gurih," ungkap Ragil.
 
Bicara soal lahirnya semur tak terlepas dari sejarah masa silam Indonesia yang pernah dijajah bangsa Eropa lantaran tergiur oleh hasil alam di Nusantara ini, khususnya rempah- rempah. Pakar filsafat dari Universitas Indonesia Lily Tjahjandari menjelaskan, dulu identitas seorang aristokrat di Eropa dibentuk oleh rempah-rempah seperti cengkih dan pala.

Tak heran, mereka seperti berlomba untuk mendapatkan rempah-rempah tersebut. Keinginan untuk mendapatkan rempah-rempah akhirnya membawa bangsa Eropa, khususnya Portugis dan Belanda, datang ke Indonesia, setelah sebelumnya para pedagang India dan Arab singgah di Nusantara untuk membeli hasil alam kita.
 
"Letak Indonesia ada di tengah- tengah rute perdagangan Timur Tengah dan Asia.
Indonesia sejak lama menjadi incaran pedagang asing. Pedagang dari India yang pertama kali masuk ke sini. Rempah-rempah kita kemudian dijual oleh pedagang India ke Arab dan Eropa. Nah, mereka ini ingin tahu, dari mana rempah-rempah itu berasal? Pedagang India hanya mengatakan, dari "negeri surga" karena mereka kan tidak mau mendapat saingan dalam memperoleh rempah-rempah. Inilah yang kemudian membuka jalan ekspansi secara massal dari bangsa Eropa.

Mereka mencari terus yang namanya "negeri surga" yang ternyata ada di Indonesia," beber Lily. Dalam kurun waktu abad 14–16, bangsa Eropa dilanda fenomena "rindu rempah-rempah". Apalagi setelah mereka tahu rempah-rempah seperti lada, cengkih, pala, kayu manis, jahe, dan kemiri tak hanya bisa dijadikan bumbu masakan, tapi juga obat-obatan dan bahkan parfum.

Pada 1551 Portugis mulai menguasai Malaka, kemudian masuk pula Belanda. Dua bangsa di Eropa ini yang pernah selama bertahun-tahun menjajah Nusantara. Bisa dibilang, Indonesia ditemukan karena rempah-rempah. Tanaman pala dan cengkih banyak ditemukan di Maluku.
(SINDO//tty)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.



image

Tidak ada komentar: