Selasa, 19 April 2011

Cicip Kudapan Khas Tanah Pasundan pasti siip

Cicip Kudapan Khas Tanah Pasundan pasti siip


Cicip Kudapan Khas Tanah Pasundan

Posted: 19 Apr 2011 12:54 AM PDT

JIKA Anda gemar menyantap makanan tradisional Jawa Barat, jangan pernah melewatkan aneka menu kudapannya yang memiliki cita rasa berbeda khas Tanah Pasundan. Apa saja jenisnya?

Menu khas Jawa Barat tidak hanya sebatas pada gurame goreng dan aneka lalapan. Sajian tradisional Sunda sangat beragam jenisnya, termasuk menu kudapan yang tentu wajib Anda coba.

Untuk aneka kudapan asin, kuliner Parahyangan memiliki beragam menu yang umumnya dimasak dengan cara digoreng dan memilih material alami sebagai bahan dasarnya. Ambil contoh combro. Menu berbahan baku utama singkong ini merupakan kudapan khas Jawa Barat yang sangat mudah ditemui.

Menurut juru masak Financial Club, Sudirman, Jakarta, Agus Saefudin, combro yang merupakan kependekan dari kalimat oncom di jero (oncom di dalam) termasuk kudapan yang difavoritkan banyak orang.

"Di Bandung, masyarakat biasanya menyantap combro dengan ditemani bajigur. Kudapan ini cocok sekali disajikan pada pagi atau sore hari," kata koki yang tergabung dalam Association of Culinary Professionals Indonesia (ACPI) itu.

Agus berpendapat bahwa mengolah combro bukan pekerjaan yang sulit. Cukup sediakan singkong yang sudah diparut, kemudian campur dengan kelapa parut. Sesuai namanya, combro memiliki isi berupa oncom yang ditumis dengan bumbu cabai dan bawang.

Jika sudah menjadi adonan dan diisi oncom, maka siap untuk dibentuk dengan bentuk bulat pipih kemudian digoreng. Agus menyarankan untuk menggoreng combro di dalam minyak dengan api sedang untuk menghindari terjadinya tekstur yang keras pada oncom jika api terlalu kecil. Sementara, jika api terlalu besar, terkadang isinya tidak matang secara keseluruhan.

Adapun yang khas dari combro adalah rasanya yang gurih, renyah, dan tentu saja enak. Untuk menambah lezat rasa, tambahkan cabai rawit di dalamnya. Otomatis cita rasa pedas pun akan melengkapi kudapan yang dibuat dengan proses mudah dan murah itu.

Jika Anda ingin mencicipi kudapan sejenis combro, namun memiliki cita rasa manis, cobalah jajanan khas lain yang bernama misro alias amis di jero (manis di dalam).

"Adonannya sama dengan combro, yaitu singkong dan kelapa. Yang membedakan hanyalah bagian isi, yaitu gula aren," imbuh koki asal Bandung itu.

Agus menambahkan, untuk isinya, misro memang menggunakan bahan gula aren. Setelah adonan jadi dan sudah terisi gula, kemudian digoreng. Hidangan ini sangat lezat disantap saat masih panas karena lelehan gula yang keluar dari misro mampu menambah kenikmatan kudapan ini.

Kedua camilan tersebut sangat mudah dibuat dan aneka bahannya pun gampang ditemukan. Bahkan, jika Anda ingin mencari combro atau misro, tidak perlu jauh-jauh pergi ke Bandung. Sebab, saat ini keduanya sudah tersedia di banyak di daerah seperti Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia.

"Tapi, Anda jangan heran kalau melihat combro sekarang beragam isiannya karena makanan Indonesia terus berinovasi," ujar Agus.

Jika Anda ingin mencicipi menu lain yang bercita rasa manis, Jawa Barat juga punya putri no'ong. Kalau menilik namanya, no'ong dalam bahasa Sunda berarti "mengintip". Hmm, ada makna tertentu tidak ya dari nama ini?

Yang pasti, putri no'ong memiliki bahan dasar singkong yang kemudian dijadikan adonan.Singkong yang juga dipadukan dengan kelapa parut ini memiliki rasa cukup gurih dan tidak terlalu manis. Pada bagian tengahnya, putri no'ong menyisipkan irisan pisang yang diibaratkan seperti sesuatu yang mengintip. Wah, ini makna nama putri no'ong.

Walaupun bisa menggunakan pisang jenis apa saja, ada baiknya Anda memilih pisang kepok kuning karena dagingnya lebih padat berisi. Untuk mempercantik tampilan, putri no'ong biasanya diolah dengan ditambahkan pewarna alami seperti daun pandan atau daun suji. Daun-daun tersebut bisa menghasilkan warna hijau, sementara warna merah dihasilkan dari daun rose.

Mengenai metode pembuatannya, pisang yang telah dikupas dibalut dengan singkong parut yang sudah dicampur gula pasir dan garam, kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus hingga matang. Proses pemasakan berlangsung sekitar 30 menit.(Koran SI/Koran SI/ftr)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Libya and Oil.



image

Tidak ada komentar: