Selasa, 26 April 2011

“Rijsttafel ala Kuliner Jawa Tengah” plus 1 more

“Rijsttafel ala Kuliner Jawa Tengah” plus 1 more


Rijsttafel ala Kuliner Jawa Tengah

Posted: 26 Apr 2011 05:17 AM PDT

MENYANTAP menu Nusantara dengan konsep ala carte ala Barat, kenapa tidak? Sajian khas Jawa Tengah bisa jadi suguhan. Dari appetizer hingga dessert, variannya banyak.

Gaya makan masyarakat Barat mengenal istilah appetizer, main course, dan dessert. Appetizer atau menu pembuka umumnya merupakan hidangan "ringan" yang disajikan dalam porsi kecil. Menu appetizer "karakteristiknya" adalah punya rasa yang kuat karena sebagai makanan pembuka sehingga harus mampu membangkitkan selera makan si penyantap.
 
"Rasa manis, pedas, atau asamnya harus strong karena appetizer merupakan pembangkit selera makan kita. Jadi, pada saat belum masuk ke main course, selera makan sudah harus dibangkitkan dengan appetizer," kata Executive Chef Hotel Melawai Jakarta Agus Sjarif.
 
Dalam konsep makan ala Barat, sup dan salad lazim dijadikan menu appetizer. Nah, di Indonesia, menumenu sejenis juga bisa dijadikan hidangan pembuka. Meski Indonesia lebih mengenal konsep makan nasi dengan lauk-pauk yang terhidang langsung dalam satu meja, namun tidak ada salahnya cara bersantap yang diawali dengan appetizer, main course, lalu dessert diterapkan juga sekali-kali. Apalagi sejak dulu budaya rijsttafel ala Belanda memang sudah berkembang di sini. Bisa dibilang, bangsa Belandalah yang memperkenalkan cara makan menu Nusantara secara "berseri" atau mirip dengan konsep ala carte. Kalau Anda sudah siap untuk menerapkan cara makan tersebut, sekarang tinggal pilih menunya. Masakan Jawa Tengah layak dicoba. Apalagi daerah ini memang memiliki banyak sekali makanan khas. Sebut saja buntil dari Banjarnegara, lumpia, bandeng presto, tahu gimbal, dan wingko babat khas Semarang, atau marning (jagung goreng) serta paru goreng asal Boyolali.

Tak hanya itu, provinsi satu ini juga punya nasi garang asem, ayam goreng kalasan, nasi gandul, nasi gombyang, tempe mendoan, gethuk, bandeng duri lunak, thengkleng, srabi solo, nasi liwet, timlo solo, mi ongklok, dan masih banyak lagi. Anda pilih sendiri, mana yang bisa dijadikan appetizer, main course, dan dessert-nya. Secara umum, masakan Jawa Tengah memiliki cita rasa agak manis.
 
Kendati demikian, sejatinya setiap daerah di Jawa Tengah punya ciri masakan masing-masing, meski daerah lain juga memiliki menu yang serupa. Ambil contoh gombyang, menu berkuah yang tampilannya sepintas mirip rawon atau bisa juga semur. Gombyang ini ada yang berasal dari Pemalang,ada juga yang dari Tegal. Daerah mana yang lebih dulu "memperkenalkan" gombyang, sulit diketahui. Sebagai bagian dari budaya, masakan tradisional memang agak sulit dilacak asal-usul daerahnya. Padatnya penduduk Pulau Jawa serta tingginya mobilisasi kian menguatkan akulturasi, tak terkecuali dalam hal masakan. Satu jenis masakan bisa menghasilkan berpuluh turunan varian.

Kembali ke gombyang, seperti telah disebutkan, menu ini mirip dengan rawon karena sama-sama menggunakan kluwek sebagai bumbu kuah. "Hanya, kalau gombyang agak manis rasanya," kata Agus.
 
Kluwek menjadi bahan bumbu yang "menentukan" rasa dalam menu gombyang. Itu sebabnya, pemilihan jenis rempah-rempah satu ini tidak boleh dilakukan sembarangan. Kalau mau rasa masakan jadi lebih nikmat, kluwek yang digunakan sebaiknya yang tua.

"Pakailah kluwek yang tua. Jangan sekali-kali mencampurnya dengan kluwek yang muda, atau bahkan kluwek muda sekalian. Jangan, karena rasa kluwek yang masih muda agak pahit. Kalau yang tua atau hitam sekali, itu bagus," ujar Agus.
 
Agus menyarankan gombyang dijadikan makanan utama alias main course. Pasalnya, menyantap gombyang haruslah dengan nasi yang tentu saja mengenyangkan. Selain itu, kuah gombyang juga cukup kental dan padat. Berbeda dengan clear soupyang berkuah bening. Kontra dengan Agus, Executive Chef Hotel Ibis Mangga Dua Jakarta Raymond Susanto justru berpendapat bahwa gombyang bisa saja dijadikan menu pembuka atau appetizer. Hanya, porsinya dikecilkan dan disantap tanpa nasi.
 
"Tapi, sebenarnya jenis menu yang dimakan dengan nasi seharusnya dijadikan menu utama," kata Raymond.

Untuk menu pembuka, Agus dan Raymond sepakat menyebut trancam sebagai sajian yang bisa dijadikan pembangkit selera makan. Bahan baku trancam alias "saladnya orang Jawa" itu adalah sayur-mayur yang masih segar dan mentah. Mirip kredok, lawar, atau bahkan urab karena mengandung parutan kelapa. Parutan kelapa inilah yang menjadi ciri khas trancam. Uraban ini disebut juga dengan gudangan.

Layaknya saus, gudangan disajikan dengan cara ditaburkan, lalu diaduk rata dengan sayuran. Gudangan terbuat dari kelapa parut yang dibumbui bawang putih, kencur, terasi, garam, dan daun jeruk. Juga cabai merah dan gula merah sehingga warna kelapa jadi kemerahan.
 
"Bedanya dengan urab, kalau urab kan kelapa parutnya dikukus, sementara trancam dibiarkan mentah saja. Yang menjadi ciri khas trancam adalah kemanginya," imbuh Agus.
(SINDO//tty)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Libya and Oil.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Tim Telur Mata Sapi

Posted: 26 Apr 2011 05:06 AM PDT

Nasi tim tak hanya berlaku untuk hidangan anak balita semata tapi juga bagi orang dewasa. Berikut resep yang bisa Anda coba.

 
Bahan:
4 btr telur, kocok lepas
3 btg sosis sapi, iris bulat
100 gr tahu cina, haluskan
1 bh wortel, potong dadu kecil
1 btg daun bawang, iris halus
2 siung bawang putih, haluskan
½ sdt merica bubuk
1 sdt garam
2 sdm tepung maizena
2 sdm minyak goreng, untuk olesan
 
Cara Membuat:
 
1. Campur telur, sosis, tahu, wortel, dan daun bawang. Tambahkan bawang putih, merica, garam dan tepung maizena. Aduk rata.
 
2. Siapkan cetakan kue talam, olesi bagian dalamnya dengan minyak goreng. Tuang adonan telur, lalu letakkan irisan sosis diatasnya. Kukus selama 25 menit sampai matang. Angkat.
 
3. Sajikan dengan saus sambal.
 
Resep ini disarikan dari buku "Kitab Masakan Kumpulan Resep Sepanjang Masa" kari Tim Dapur Demedia.
(tty)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Libya and Oil.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Tidak ada komentar: