Selasa, 10 Mei 2011

“Legit Khas Bugis” plus 2 more

“Legit Khas Bugis” plus 2 more


Legit Khas Bugis

Posted: 10 May 2011 04:50 AM PDT

SUKU Bugis di Sulawesi Selatan mewarisi resep makanannya secara turun-menurun. Termasuk resep ragam kue basah yang keberadaannya dirasa semakin langka.


Kue tradisional Bugis seperti burongko, biji nangka, sikaporo, katirisalla, dan nennu-nennu tello termasuk kudapan yang cukup sulit ditemui, bahkan di Sulawesi Selatan sekalipun. Penyebabnya bukan semata karena tokotoko jarang yang menjual, juga lantaran kue-kue tersebut dibuat hanya pada saat ada perayaan, seperti hajatan pernikahan ataupun pesta adat.

Beruntung Pemerintah Kota Makassar terbilang rajin menggelar pameran kuliner khas Sulawesi Selatan. Di acara- acara semacam itulah makanan ataupun kue-kue tradisional dan langka bisa dijumpai dan dinikmati kembali oleh masyarakat. Kue tradisional Bugis umumnya memiliki cita rasa manis dan legit. Konon, manisnya kue mengandung makna bahwa kehidupan harus selalu diisi dengan hal yang baik. Makanya, kue-kue ini hanya disajikan pada acaraacara yang mengandung kebaikan dan doa.

Kue seperti burongko, biji nangka, sikaporo, katirisalla, dan nennu-nennu tello memang asli dari Bugis. Biasanya masing-masing kue mengandung arti dari rasanya. Namun, kebanyakan rasanya manis dan legit karena disajikan setelah menyantap masakan besar dari daging-dagingan.
 
Kue Bugis masih dijaga kelestariannya. Setiap ibu PKK di Sulawesi Selatan diwajibkan mengetahui resep dan cara memasak semua jenis kue tersebut. Terlebih panganan ini selalu menjadi andalan saat ada acara pameran, baik tingkat regional, nasional, maupun internasional. Apalagi bahan-bahannya cukup sederhana dan semua jenis kue Bugis hampir memiliki bahan yang sama. Adapun yang berbeda, tentu saja takaran dan cara membuatnya.
 
Ciri khas kue Bugis, salah satunya adalah bahannya yang selalu menggunakan telur. Selain itu, ada gula pasir atau gula merah yang berfungsi sebagai pemanis. Paduan telur dan gula pasir dalam takaran yang cukup banyak bisa dinikmati saat menyantap kue nennu-nennu tello. Sesuai namanya yang berarti butiran-butiran berbahan telur, maka rasa khas telur menjadi cita rasa panganan ini.
 
Rasa yang sama bisa dinikmati pada kue biji nangka. Warnanya yang kuning terang sangat mencirikan cita rasa telur. Bedanya, tentu saja dari cara membuatnya. Kue ini menggunakan kentang sebagai bahan dasar. Maka itu, meski bentuknya terlihat seperti biji nangka, namun rasa yang dimiliki adalah rasa kentang.
 
Lain lagi dengan burongko. Banyak jenis burongko yang sering dibuat sebagai kudapan sore hari. Burongko dikenal berbahan dasar pisang kepok. Namun, tidak mutlak berbahan dasar pisang. Bisa juga dibuat dari ubi jalar. Ubi yang sudah direbus matang, kemudian diserut kasar agar cita rasanya tidak hilang saat dicampur dengan santan, telur, dan gula pasir. Rasanya cukup legit. Apalagi jika disajikan dingin.
 
Satu lagi makanan tradisional Bugis, yakni sikaporo, yang juga memiliki rasa khas telur. Cukup dipercantik dengan pemberian warna, kue ini kerap menjadi favorit semua orang. Satu kue Bugis yang bisa didapatkan di toko kue, terlebih pada saat Ramadan, adalah katirisalla. Kue ini kerap disantap ketika berbuka puasa. Paduan beras ketan hitam dan gula merah menjadikan panganan ini cukup mengenyangkan.
 
Satu lagi yang unik yakni cara penyajiannya. Namanya kue Bugis, akan lengkap rasanya jika disajikan dalam sebuah tempat yang disebut bosara. Tempat kue itu memiliki bentuk seperti cawan terbuat dari perak. Tertarik untuk kembali merasakan kuliner khas zaman dulu? Kini Anda bisa mencobanya di rumah.
(SINDO//tty)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: If At First You Don't Succeed - Four Decades Of US-UK Attempts To Topple Gadafi.



image

Wah, Kafe Tentara Jerman Ada di Bandung!

Posted: 10 May 2011 04:38 AM PDT

KETIKA masa Perang Dunia II, di Paris berdiri Soldatenkaffe der Kommandantur Gross (kafe khusus petinggi tentara Jerman). Ternyata, kafe berbau rasisme itu ada di Bandung.

Lokasi kafe tepatnya berada di kawasan Paskal Hyper Square. Namun, kafe ini tentu tidak menyuarakan rasisme, karena siapa pun boleh bersantai di dalamnya.

"Nama kafe ini memang mengadopsi nama kafe di Paris pada masa Perang Dunia II," terang Henry Mulyana, pemilik kafe Soldatenkaffe der Kommandantur Gross, Bandung, Jawa Barat, baru-baru ini.

Menu makanan yang ditawarkan tak jauh berbeda dengan kafe pada umumnya yang berada di Kota Kembang, yakni beragam menu makanan khas Indonesia. Bedanya, tentu ada makanan khas Jerman. Selain itu, sebagai ciri khas, kafe turut menyediakan minuman khas yakni bir Belgia (hoegaarden) dan bir Jerman (erdinger).

Menurut Henry, kafe menggunakan konsep kombinasi budaya Indonesia dan Jerman. Interior kafe diisi dengan media berisi sejarah. Para pengunjung juga bisa menonton film-film perang karena pemilik kafe menyediakan sekira 30 judul film bernuansa perang yang siap diputar sambil menyantap welcome food.

Memasuki Soldatenkaffe, Anda seperti masuk ke museum Perang Dunia II. Pengunjung bisa menemui para tentara Jerman dalam bentuk foto dan poster, action figure atau boneka-boneka yang menyerupai para petinggi tentara Jerman.

Berbagai benda yang pernah dipakai para tentara Jerman pada masa Perang Dunia II juga menjadi hiasan interior Soldatenkaffe, seperti pakaian, lukisan, hingga tempat makan yang selalu dibawa oleh para tentara Jerman. Dan, tentu saja swastika kebanggaan Hitler, yakni bendera merah berlambang Nazi.

"Selain menjadi museum, tempat ini sekaligus jadi tempat nongkrong anak-anak muda, makanya saya menyediakan menu makanan berat, minuman, sampai camilan," ujar Henry.

Didirikannya Soldatenkaffe berawal dari hobi Henry yang gemar mengoleksi barang-barang militer yang digunakan para tentara Jerman. Barang-barang yang dipajang di
Soldatenkaffe der kommandantur gross bukan sekedar tiruan, karena sebagian
benar-benar asli sebagai barang yang pernah digunakan oleh tentara Jerman. Misalnya, lukisan yang sudah ada sejak masa perang, foto-foto juga hasil cetakan dari film aslinya sekira era 1940-1945. Kepada tiap pengunjung, dengan senang hati Henry menjelaskan setiap benda koleksinya itu.

"Banyak turis-turis asing yang masuk ke sini tanpa memesan apapun, hanya melihat-lihat sambil foto-foto lalu keluar lagi," tuturnya.(ftr)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: If At First You Don't Succeed - Four Decades Of US-UK Attempts To Topple Gadafi.



image

Ada Sake Jepang di Wine & Cheese Expo JFFF 2011

Posted: 09 May 2011 03:59 AM PDT

JAKARTA Fashion & Food Festival (JFFF) merupakan ajang perkawinan antara fesyen dan makanan. Salah satu yang dinanti adalah event bertaraf internasional, Wine & Cheese Expo.

Selain kuat pada pergelaran fesyen, JFFF juga memfokuskan perhelatan pada kuliner, yakni Wine & Cheese Expo. Tahun ini, acara dihadirkan di Multi Purpose Hall (MPH) La Piazza. Selama rangkaian mulai 14-29 Mei 2011, acara akan menampilkan anggur dan keju terbaik dari sejumlah negara sahabat.

"Kami bekerja sama dengan beberapa embassy. Ini untuk menjembatani, intinya menjadi pertukaran budaya," kata Anwar A Salim, Ketua Pelaksana JFFF 2011 kepada okezone lewat ponselnya, Senin (9/5/2011).

Beberapa di antara kedutaan besar yang terlibat adalah dari Prancis, Chili, Jepang, dan New Zealand.

"Tahun ini, peserta dari Prancis akan membawa champagne, peserta dari Jepang akan bawa sake. Dan meski namanya wine and cheese, makin ke sini ada juga gourmet dan cokelat. Pesertanya makin banyak," jelasnya.

Berbagai event menarik bakal digelar di dalamnya, seperti Meet & Greet 14 Chateau Representatives dari Bordeaux Prancis, Wine Tasting, Wine Dinner dengan lima chef ternama dunia, Wine Workshop, Wine & Food Pairing, Pastry Chef Show, Cheese Discovery, dan Foodtography Competition.

"Acara terbuka untuk umum. Mereka enggak bayar tiket, tapi memberi penggantian voucher senilai Rp20 ribu yang nanti bisa untuk membeli wine," ujarnya.

Mengapa ada Wine & Cheese Expo, padahal kita tahu JFFF merupakan ajang produk lokal berbasis budaya untuk dapat diapresiasi baik oleh masyarakat Indonesia?

"Kami ingin orang asing yang datang akhirnya tahu bahwa Indonesia punya JFFF. Dari sana, mereka melihat bahwa Indonesia juga punya acara berkelas internasional. Mereka akan menyampaikannya dari mulut ke mulut saat kembali ke negaranya. Saya kira, ini jauh lebih efektif untuk promosi. Tidak perlu kami berkoar-koar, karena pasti butuh dana yang sangat besar. Biarkan bukti bicara," tukasnya.(ftr)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: If At First You Don't Succeed - Four Decades Of US-UK Attempts To Topple Gadafi.



image

Tidak ada komentar: