Senin, 27 Juni 2011

“Kenalkan Kuliner Nusantara di Acara Pernikahan” plus 2 more

“Kenalkan Kuliner Nusantara di Acara Pernikahan” plus 2 more


Kenalkan Kuliner Nusantara di Acara Pernikahan

Posted: 27 Jun 2011 04:30 AM PDT

BAGI pakar kuliner Bondan Winarno, perkembangan invasi makanan barat ke Indonesia perlu ditangulangi dengan bijaksana. Hal ini dilakukan agar makanan khas Tanah Air tidak dilupakan begitu saja.

Banyak cara diupayakan oleh berbagai pihak guna melestarikan khazanah budaya Indonesia. Bagian dari budaya bumi pertiwi yang sedang dijaga keberadaannya hingga bisa dinikmati anak-cucu kita adalah kuliner. Menurut Bondan, salah satu triknya ialah dengan pernikahan. Lho kok?

"Cara yang paling efektif agar sajian khas Nusantara tidak dilupakan ialah menampilkan beragam sajian khas Nusantara di acara pernikahan. Ini adalah tantangan yang harus dijawab oleh anak muda. Sebagai contoh, jika Anda menikah dengan pria dari Bengkulu sementara Anda orang Jawa, saya sarankan untuk menampilkan makanan daerah masing-masing saat menikah," ujarnya ketika ditemui di Sahid Festival, Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Minggu (26/6/2011).

Ditambahkan pria berusia 61 tahun ini, pernikahan dengan sajian menu istimewa pasti akan berkesan bagi para tamu.

"Usai pernikahan, bisa saja salah satu tamu ngomong ke temannya, 'Wah, saya tadi makan tempoyak dan getuk pisang (makanan penutup khas Bengkulu-red) di pernikahan si anu'. Dengan begitu, Anda telah memperkenalkan kembali sajian khas daerah asal Anda, sekaligus memberikan kesan bagi dia," tutupnya.(ftr)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Sayur Babanci, Makanan Lawas yang Hampir Punah

Posted: 27 Jun 2011 03:59 AM PDT

KIAN hari, gempuran makanan barat semakin banyak saja. Contoh kasus, anak-anak lebih mengenal burger daripada kue cubit.

Perkembangan zaman juga telah menyebabkan semakin jarangnya warung makan yang masih konsisten menyediakan makanan lawas Nusantara di tengah masyarakat.

"Hilangnya makanan lawas karena orangtuanya sendiri tidak tahu, maka anaknya pun tidak tahu. Misalkan, makanan Betawi kebanyakan makanan lawas terpinggirkan dan hanya dijual di kawasan seperti Srengseng Sawah atau Cibubur. Akhirnya, anak-anak muda lebih mengenal yang lebih populer yakni nasi uduk," kata pria yang akrab dengan ungkapan "maknyus" ini di Sahid Festival, Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Minggu (26/6/2011).

Bondan menengarai, banyak pihak menjadi penyebabnya, bukan semata orangtua. Sungguh sayang, karena kuliner khas suatu daerah merupakan bagian dari budaya daerah tersebut.

"Tahun 50-an, ada makanan Betawi yang sangat menarik yakni nasi ulam, yang sudah jarang bisa ditemui di mana-mana. Kalau saya lihat, problema ini merupakan kesalahan banyak pihak. Jangan anggap kuliner tidak berarti, karena kuliner seharusnya diakui sebagai bagian dari budaya," jelasnya.

Bondan mengatakan, salah satu sajian Betawi yang sudah sangat sulit ditemui ialah sayur babanci. Bondan bahkan punya cerita menarik soal menu ini.

"Saya baru menemukan sayur babanci sekitar dua tahun lalu di daerah Pondok Gede. Bukan warung makan, melainkan oleh seorang yang bisa mengolah makanan khas Betawi. Ketika makan, ternyata enak, sampai terpikir 'kemana aja saya selama ini?'. Untuk menebus dosa saya terhadap sayur babanci, saya berusaha menyajikannya jika sedang ada tamu. Orang itu bisa bikinnya 35-50 porsi, ya saya beli semua. Minimal hanya untuk memperkenalkannya ke orang lain," tutupnya.(ftr)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Kriteria Sajian "Maknyus" di Mata Bondan Winarno

Posted: 27 Jun 2011 03:36 AM PDT

SEBAGAI seorang pakar kuliner, Bondan Winarno terkenal dengan ungkapan "Pokoke maknyus!" saat mencicipi makanan di sebuah program televisi. Sebenarnya, bagaimana kriteria makanan "maknyus" menurutnya?

"Makanan yang mengejutkan. Dalam artian, makanan tadi mampu memberikan kejutan bagi semua indera kita. Begitu kita datang (ke sebuah restoran), ada aroma bagus yang membuat kita langsung terpikat, kemudian indera mata dimanjakan dengan penampilan yang menggoda. Dan begitu kita cicipi, wah langsung 'mekar' makanan tadi di mulut kita sebagai bentuk konfirmasi apa yang telah kita ekspektasi sebelumnya, jika memang sesuai," tutur Bondan di Sahid Festival, Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Minggu (26/6/2011).

Ditambahkan pria berusia 61 tahun ini, itulah mengapa banyak orang yang mengaku makan menggunakan tangan lebih nikmat.

"Makan dengan tangan lebih nikmat karena kita bisa merasakan teksturnya. Kita bisa menggenggam nasinya apakah dia pera atau pulen, atau apakah sajian tadi berminyak. Semakin banyak indera yang bekerja saat kita makan, maka akan semakin muncul kenikmatannya" sahutnya.(ftr)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Tidak ada komentar: