Sabtu, 02 Juli 2011

“70 Kuliner Berbahan Dasar Lokal Hadir di Ciwalk” plus 1 more

“70 Kuliner Berbahan Dasar Lokal Hadir di Ciwalk” plus 1 more


70 Kuliner Berbahan Dasar Lokal Hadir di Ciwalk

Posted: 01 Jul 2011 04:45 AM PDT

SEKIRA 70 kuliner khas Jabar disajikan di pelataran Mal Cihampelas Walk (Ciwalk) Bandung, Jawa Barat. Uniknya, kuliner tersebut terbuat dari makanan berbahan baku lokal.

Makanan yang terdiri dari empal gentong, mi kocok, tahu gedjrot, hingga brownies yang terbuat dari tepung ganyol, aneka kue dari tepung singkong, dan umbi tersaji dalam Festival Keanekaragaman Makanan Berbahan Baku Lokal 2011.

Festival yang diikuti berbagai kota/kabupaten di Jabar ini dihelat Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Tujuannya, mengenalkan produk makanan berbahan baku lokal sekaligus mendorong terciptanya ketahanan pangan yang mengandalkan bahan baku lokal.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengatakan, makanan lokal seperti singkong, ketela, dan umbi-umbian sebenarnya menyimpan energi yang sama dengan nasi atau beras.

"Makanan lokal tidak boleh diartikan tidak bermutu, 100 gram nasi sama dengan 100 gram umbi atai singkong," kata Heryawan, saat membuka festival tersebut, Jumat (2/7/2011).

Festival, kata Heryawan, diharapkan tidak berhenti pada festival semata. Dia berharap produk makanan berbahan baku lokal menjadi banyak dan didistribusikan dari warung hingga perhotelan. "Sehingga makanan lokal menjadi massif," harapnya.

Dalam menghadapi makanan lokal, saran Heryawan, seharusnya masyarakat melawan perasaan bahwa makan singkong tidak sama dengan makan nasi. "Sehingga etnik food menjadi ketahanan pangan kita, supaya bisa ngirit," ujarnya.

Dia mengungkapkan, konsumsi beras masyarakat Indonesia sangat tinggi. Yang tertinggi adalah masyarakat Jabar karena penduduknya terbanyak di Indonesia.

"Orang China konsumsi beras 50 kg per tahun, Jepang 60 kg per tahun, Thailand 80 kg per tahun, sedangkan Indonesia 130 kg per tahunnya," bebernya.(ftr)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Ini Dia Restoran Ayam Taliwang Pertama di Indonesia

Posted: 01 Jul 2011 03:15 AM PDT

AYAM Taliwang. Pasti semua sudah mengenal jenis masakan ayam kampung asal pulau Lombok tersebut. Tapi, tahukah Anda restoran ayam Taliwang pertama di Indonesia?

Adalah Ayam Taliwang Haji Moerad yang menyebut dirinya sebagai ayam taliwang pertama di Indonesia. Lokasi rumah makan ini bertempat di Jalan Pelikan No 6 Pajang, Mataram. Lokasinya hanya 15 menit dari Bandara Selaparang, rata-rata sopir taksi dari bandara sudah mengetahui di mana lokasi restoran ini.

Dari luar, restoran tampak sederhana. Yang membuatnya berbeda adalah jejeran mobil yang parkir. Benar saja, di dalam restoran memang meja-meja sudah terisi oleh pengunjung yang ingin makan siang di Ayam Taliwang H. Moerad ini.

"Setiap hari, kami bisa menghabiskan seratus ekor lebih ayam kampung," jelas Hj Siti Sovia Moerad, putri kandung H Moerad yang mengelola langsung restoran warisan ayahnya ini.

Hj Sovia bercerita, almarhum ayahnya mulai merintis usaha ayam Taliwang sejak 1965. Itulah pertama kali makanan berbahan ayam khas ini mulai dikenal. Namun, H Moerad tidak mempatenkan nama restoran atau masakannya ketika itu.

"Kami tidak mempatenkan nama atau masakan kami. Kalau kami mempatenkannya, maka kami menutup rejeki orang lain. Biar saja orang menggunakan nama yang sama, yang jelas rasa masakan kami tidak ada yang bisa menyamainya," beber Hj Sovia.

Selain itu, Ayam Taliwang H Moerad juga memberikan kelonggaran kepada siapapun yang ingin makan. Artinya, restoran tidak mematok harga pas kepada setiap pengunjung.

"Bila ada konsumen yang datang tapi tidak membawa uang cukup, kami tetap menerimanya. Karena ayah kami berpesan, dalam membuka usaha restoran tidak boleh mengharapkan untung besar. Yang penting bisa membuat orang bisa datang dan makan," tegas wanita paruh baya yang meneruskan usaha restoran ini sejak 1987.(ftr)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Tidak ada komentar: