Senin, 04 Juli 2011

“Pintar Membuat Sandwich” plus 1 more

“Pintar Membuat Sandwich” plus 1 more


Pintar Membuat Sandwich

Posted: 04 Jul 2011 05:48 AM PDT

ANDA penyuka sandwich? Jika ya, saatnya Anda membuat sandwich sendiri daripada membeli di restoran. Dijamin, cita rasa sandwich buatan Anda tidak kalah.


- Agar memperoleh sandwich yang enak, pilih bahan-bahan (roti, sayuran, keju, dan daging olahan) yang segar dan berkualitas.

- Jangan ragu mencoba berbagai olesan saat meracik sandwich. Selain mentega, cobalah juga memakai olesan lain, misalnya mayones, yoghurt, mentega kacang (peanut butter), atau saus mustard.

- Untuk memperkaya cita rasa sandwich, tambahkan bumbu-bumbu bercita rasa kuat, seperti merica hitam tumbuk kasar, saus tabasco, chili oil, saus cabai, cabai bubuk, bumbu herba kering (oregano, thyme).

- Pilih bahan olesan (mentega, mayones, saus mustard) yang rendah lemak.

- Sebagai isian sandwich, gunakan sayuran lebih banyak. Langkah ini dapat meningkatkan asupan vitamin A, vitamin C, serat, dan mineral.

- Selipkan sepotong keju lembaran ke dalam sandwich untuk menambah asupan kalsium.
(SINDO//tty)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.



image

Mantapnya Iga Bakar Penyet D'Pantry

Posted: 04 Jul 2011 03:25 AM PDT

BUKAN zamannya lagi kedai kopi hanya menyuguhkan kopi. Makanan berat mulai ditampilkan sebagai menu andalan mengalahkan pamor si kopi sendiri.


Anda yang gemar mencicip kopi di berbagai coffee shop ditemani cake atau makanan ringan sebagai selingan sambil menikmati sore atau malam hari, mungkin akan mengubah kebiasaan tersebut. Bisa jadi, sekarang kunjungan ke kedai kopi kesayangan justru untuk bersantap siang.

Lho kok bisa? Ya, beberapa tahun belakangan kita lihat perkembangan kedai kopi ke arah bistro semakin nyata. Sayangnya, sering kali main course yang ditawarkan tidak sebanding dengan kualitas kopi yang dijual. Dalam arti, kedai kopi hanya berusaha memenuhi kebutuhan akan permintaan makanan tanpa memperhatikan kualitas rasa demi menjangkau lebih banyak pelanggan.

Berkaca dari hal itu, D'Pantry Coffee & Eatery berpegang pada moto tersendiri, where good coffee meets good food. Kedai kopi yang belum lagi genap setahun ini, mencoba menyajikan makanan berat yang bisa menemani pengunjungnya bersantai. Menariknya, kedai ini justru mengangkat makanan Nusantara sebagai main course. Seperti iga bakar penyet yang merupakan menu baru. Menu ini terdiri atas nasi bakar berisi oncom, tahu, dan tempe goreng, sup, lalapan, serta dilengkapi dengan sambal bajak pula. Menu yang terbilang combo ini sudah pasti membuat kenyang. Iganya gurih dan ditambah dengan sambal bajak yang puedesnya pol, mantap habis.

Seporsi iga bakar penyet ini dihargai Rp65.000. Harga yang dibanderol itu terbilang worth it. Ada lagi rawon, lagi-lagi penyajiannya juga sama lengkapnya dengan iga bakar penyet tadi. Nasi putih dengan rawon hangat yang ditaburi taoge pendek dan daging yang dipotong dadu, telur asin, lalapan, sambal, dan ditambah kerupuk udang. Makan siang menjadi sungguh berkesan. Bagi Anda yang suka makanan sehat, bisa memilih chef salad. Salad besutan sang chef ini juga cukup mengenyangkan. Aneka selada, dengan potongan tomat, telur, daging ayam dan sapi panggang, disiram dressing thousand island, dan diberi potongan keju cheddar di atasnya, sudah cukup membuat perut terisi.

Sebagian besar hidangan yang dijual memang makanan negeri sendiri. Namun, ada juga sirloin steak dan chicken cordon bleu sebagai contoh makanan internasional. D'Pantry juga menyediakan paket makan siang dengan harga terjangkau, yakni sekitar Rp30.000. Pilihan menunya beragam, mulai dari nasi goreng hijau, kakap asam manis, chicken teriyaki, soto bandung, hingga seafood pindang.

Nasi goreng hijau menggunakan cabai hijau, ditambah udang, ikan teri, telur, dan kerupuk. "Meski pakai cabai hijau, tapi rasanya tidak pedas," tutur Operations Manager D'Pantry Coffee & Eatery Junaedi.

Sementara itu, makanan ringan yang bisa dinikmati di tempat ini antara lain calamari dengan saus tar tar, popiah atau semacam risol yang berisi sayuran dan udang dicelup ke dalam saus Thai, chicken wing, dan kentang goreng. Cake tiramisu, black forest, brownies, atau cheese cake bisa menjadi kudapan manis sambil menikmati waktu di tempat ini.

Belum afdal rasanya jika tidak menyinggung kopi suguhan kafe yang berlokasi di Jalan Gandaria I nomor 83, Kebayoran Baru ini. Menurut Junaedi, kopi yang ditampilkan merupakan paduan antara kopi lokal dan kopi Brasil.

"Untuk kopi lokal, kami mengangkat kopi dari Bali, Toraja, dan Sumatera serta kopi luwak," ungkapnya.

SINDO memesan kopi luwak yang harganya Rp70.000. Alih-alih menerima secangkir kopi, barista malah datang ke meja membawa alat peracik kopi bernama syphon. Sang barista kemudian menyalakan api yang memanaskan air di dalam sebuah gelas kaca sementara di bagian atas ditaruh bubuk kopi.

Air tersebut karena didorong udara panas dari api, kemudian naik ke wadah tempat kopi berada dan membasahi bubuk kopi tersebut. Bubuk kopi tadi kemudian bercampur rata dengan air dan perlahan turun kembali ke tempat semula. Karuan saja aroma harum kopi luwak memenuhi ruangan, membuat kita tidak sabar mencicipi kopi paling mahal tersebut. Tinggal tambahkan gula sesuai keinginan. Kopi lain yang tak kalah pamor adalah Americano atau kopi hitam, dan aneka espresso. Agar pengunjung tidak bingung, di daftar menu ada keterangan untuk setiap makanan dan minuman sehingga kita mempunyai gambaran tentang menu tersebut.

Kafe berlantai dua ini berkapasitas sekitar 115 orang. Interior yang dipamerkan bergaya sangat homey dan cozy. Terlebih lagi, kursi kebanyakan didominasi sofa meski ada pula beberapa dining table. Yang menarik, 70 persen perangkat yang ada di sini entah itu kerajinan tangan, lukisan, hingga kursi, bisa dibeli. Ada harga yang tertera di permukaannya. Kafe ini memang dihias dengan kerajinan tradisional dari Yogyakarta, Jawa Barat, dan Bali.
(SINDO//tty)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.



image

Tidak ada komentar: