Sabtu, 13 Agustus 2011

“'Salero Kito' di Melbourne” plus 2 more

“'Salero Kito' di Melbourne” plus 2 more


'Salero Kito' di Melbourne

Posted: 13 Aug 2011 02:30 AM PDT

BEBERAPA orang pengunjung Salero Kito menyantap menu masakan Padang yang dipilih. Restoran yang berlokasi di Kota Melbourne, Australia, ini menyediakan makanan khas Minang dengan rasa yang autentik.
 
Selama-lamanya tinggal di negeri orang, seberagam dan selezat apa pun kuliner yang pernah dirasa, tetap saja kembali ke menu masakan rumah, masakan "kampung halaman".

"Ini baru makanan Padang asli!" Spontan ucapan ini terlontar saat sendok pertama racikan menu masakan Padang ini menyentuh lidah.

"Salero Kito"! benar-benar selera kita! Dengan gaya saji ala fast food restaurant, menu masakan Padang tertata di hot food display: rendang daging, gulai kepala ikan, gulai sayur nangka muda, gulai ayam, gulai tunjang (kikil), gulai otak sapi, gulai kambing, sambal hijau, dendeng balado, telur balado, paru goreng, sate padang, ayam pop, ayam goreng, udang pedas, dan lain-lain.

Hmm...persis sama, tidak rugi masuk resto ini tadi. Ini bukan rumah makan Padang di Jakarta atau di tanah Sumatera Barat sana yang sudah lumrah kalau lezat. Tapi, ini adalah restoran masakan Padang Salero Kito di Melbourne, Australia. Satu porsi seharga rata-rata Aud 9.50, sudah cukup menenangkan perut.

Sulit menemukan cita rasa asli masakan Indonesia seperti ini di luar negeri, apalagi jenis masakan yang pengolahannya rumit seperti masakan Padang. Sepengamatan saya, masakan Padang sangat jarang tersaji di restoran Indonesia. Berbeda dengan kuliner China yang menyebar ke seluruh dunia sejak zaman baheula.

Bisa jadi karena masakan Padang dominan dengan rasa pedas, terkesan berat karena sarat bumbu sehingga kurang diminati orang-orang bangsa lain. Namun, semua ini justru menjadi tantangan bagi Ezra Toddy, sang chef sekaligus pemilik Salero Kito yang sudah hampir sepuluh tahun menetap di Melbourne.

Tepat sekali kalau restoran Padang ini didirikan di Melbourne yang notabene menonjol dengan penduduk multikulturalnya. Warganya sudah terbiasa dengan makanan dari berbagai bangsa, terutama kuliner Asia.

Apalagi warga Indonesia pun sangat banyak. Selama-lamanya orang Indonesia hidup di luar negeri serta seberagam dan selezat apa pun kuliner yang tersedia plus pernah dicicipi di negeri orang, tetap saja kembali ke menu masakan rumah, masakan ibu, masakan kampung halaman.

Masakan Padang autentik dalam suasana Indonesia sungguh mengobati kerinduan akan rasa makanan Tanah Air yang sesungguhnya.

"Enggak ada yang bisa menandingi kelezatan makanan negeri sendiri," begitu menurut pengalaman indra perasa saya.

Tidak berapa lama sejak mulai beroperasi pada Agustus tahun lalu, resto yang berada di daerah suburb di sebelah tenggara Kota Melbourne langsung dikenal di seantero kota. Lokasinya di 21-23 Waverley Rd, Malvern East, VIC 3145 (Melway 68 F1), mudah dicapai dengan kereta api atau tram.

Dengan train, dari City (istilah yang lazim untuk menyebut pusat kota) pilih jurusan Pakenham/Frankston/ Dandenong; turun di halte Caulfield, dan resto ada di depan Monash University-Caulfiled. Atau dengan tram nomor tiga arah Malvern East dari City, turun di halte dekat kampus Monash, universitas yang banyak mahasiswa Indonesianya.

Berlabel sertifikat "halal", ini pun satu kelebihannya. Salero Kito menjawab pencarian saya akan makanan halal yang biasanya sulit ditemui di negeri nonmuslim. Semua bahan baku daging disediakan pemasok Halal Meat di Provinsi Victoria. Rumah makan ini cepat memikat pelanggan dengan promosi melalui media sosial Facebook, link dengan beberapa website kuliner, Indonesian free magazine di Australia, dan flyer.

Tak heran pelanggannya tersebar di kalangan warga Indonesia pada umumnya, lingkungan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne, Young Indonesian Muslim Students' Association, para profesional,warga Malaysia di Melbourne (termasuk pejabat Malaysia yang sedang bertugas), turis Indonesia, hingga para artis dan pejabat dari Tanah Air.

Pelanggan dari orang Australia, orang China, dan orang Asia lain pun mulai sering terlihat mampir di sini. Salero Kito juga melayani pesanan antar dan katering untuk mahasiswa ataupun keluarga. Pada bulan Ramadan tahun ini, Salero Kito menyajikan cuma-cuma cendol gratis untuk berbuka puasa pada pukul 17.30-18.30 waktu setempat.(SINDO//nsa)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Bouillabaisse nan Gurih di Ujung Senja

Posted: 13 Aug 2011 01:12 AM PDT

SAAT Anda menyantap sebuah hidangan, kelezatan menjadi prinsip nomor satu. Sedangkan membuat perut kenyang, jadi urutan kedua. Untuk membuktikannya, cobalah Bouillabaise nan gurih sebagai menu pembuka di ujung senja yang temaram saat Ramadan. 

Berbahan dasar ikan bandeng yang dimasak matang, hingga membuatnya jadi sajian ikan tanpa tulang. Tetapi prosesnya bukan dipresto, melainkan dikukus.

Kukusan ikan bandeng tak bertulang itu dilumuri siraman kuah mirip kaldu. Kuah bagi sang ikan sangat terlihat kental. Dengan paduan rasa gurih di dalam kuah yang pekat berbaur dengan aroma minyak zaitun, bawang bombai, tomat, adas, dan bawang putih. Dilengkapi bubuk saffron atau kunyit halus, lada, bay leaf, dan garam. Kesemua elemen tersebut masih mudah dikenali saat sampai di lidah.

Diberi ornamen warna kuning, kuah ikan bandeng tanpa tulang ini jadi sewarna kunyit. Teman bersantap tambah nikmat dibubuhi acar dalam wadah mangkuk kecil. Tendangan gizinya dikunci karbohidrat beras merah kukus.

"Takaran rasa pedas dan gurihnya sudah disesuaikan dengan selera dari kebanyakan orang Indonesia," kata Chef Irvan Kurnia dari Resto Djuku di Trans Studio Mall, Makassar.

Jepitlah sekerat ikan bandeng tanpa tulang dengan garpu di tangan kiri. Lalu, letakkan acar di atas permukaan dagingnya. Terakhir, sendoklah beras merah kukus bernuansa kepul yang menguapkan hawa hangat-hangat kuku.

Rasakanlah tekstur daging ikan bandeng dikelamuti bumbu gurihnya. Di sela resapan rasa pedas acar. Ayo hirup kuahnya, sluuurp!

Penuh mitos, sejarah Bouillabaise ditemukan sejak zaman Yunani Kuno. Kemudian para pemancing goudes di Marseille, kota pelabuhan Prancis, memopulerkannya sebagai konsumsi sehari-hari. Menyantap Bouillabaise ibarat menikmati semacam pencerahan penuh filsafat ala Socrates di tepi jalan sebuah pasar.(nsa)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Hadir sejak 1980, Rendang Alat Diplomasi Dunia

Posted: 12 Aug 2011 10:13 PM PDT

SEBAGAI masakan khas Sumatera Barat, rendang telah masuk dalam 50 makanan terenak di dunia pada tahun ini. Ternyata, rendang sudah dikenal sejak 1980-an.

"Saya pikir ini terkait dengan bagaimana kita memperkenalkan makanan pada masyarakat, rendang dimulai dengan bangkitnya masakan Padang. Kita tahu jika kita pergi ke Amerika, Belanda dan restoran Padang menjadi lawan kecil restoran China, Thailand, Piam. Ini fenoma menarik dan ekspansi pada 1980 yang didengungkan oleh Joop Ave bersama Ibu Tini Gani dan harus dibangkitkan sekarang. Punya warisan bukan seperti Borobudur, Prambanan tapi ini sifatnya makanan," kata Sejarawan JJ Rizal saat berbincang dengan okezone di sela-sela acara Kenduri Semur Nusantara di restoran Rempah-Rempah, Senopati, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Melalui rendang, makanan ini telah jadi jembatan dunia untuk Indonesia. Bahkan rendang telah menjadi alat diplomasi dunia.

"Warisan bukan seperti Borobudur, Prambanan, tapi ini sifatnya makanan. Makanan itu menjembatani muultikulturisme dunia, orang bisa merasakan Indonesia dengan makan rendang, dan rendang merupakan alat diplomasi dunia. Padahal dalam sejarah kuliner sering dipakai sebagai alat identifikasi, diplomasi suatu bangsa," imbuhnya.

Berawal dari tradisi untuk mengawetkan makanan, maka munculah rendang.

"Tradisi hanya hidup di Sumatera terutama di wilayah Sumatera Barat dan bangkit dari tradisi untuk mengawetkan makanan, ingredients, dan bahan-bahan yang menunjukkan hampir setara dengan semur. Ini hanya inovasi tradisi yang sudah purba yang sudah ada di masa berburu dan meramu, dan dilukiskan dalam prasasti serta dinyanyikan dalam kidung-kidung, tentang bagaimana mengolah daging pada hari istimewa. Satu proses inovasi secara bersamaan untuk mengawetkan daging, sebagai makanan yang tidak bisa didapatkan pada hari-hari biasa," ungkapnya.

Masuknya negara-negara seperti Turki dan Persia membuat banyak orang, khususnya masyarakat Padang mempunyai tradisi kuliner yang progresif. Terutama pada pengolahan daging.

"Orang Padang yang punya tradisi kuliner yang progresif, mereka bisa mengadopsi trasdisi makanan dari Persia, Turki, dari dunia Islam Mandailing, Aceh dan pola pengolahan daging yang hampir sama dengan rendang. Rendang adalah produk dari Sumatera, terutama di bagian tengah ke atas, yang banyak sekali dipengaruhi agama Islam," tutupnya.(nsa)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Tidak ada komentar: