Kamis, 18 Agustus 2011

“Trik Pilih Lada Berkualitas Baik” plus 2 more

“Trik Pilih Lada Berkualitas Baik” plus 2 more


Trik Pilih Lada Berkualitas Baik

Posted: 18 Aug 2011 04:46 AM PDT

LADA biasanya digunakan sebagai penambah selera makanan. Lada bahkan banyak digunakan pada menu Nusantara dan western.

Aroma tajam dari lada menjadikan masakan semakin terasa lezatnya, meskipun menjadi sedikit pedas. Akan tetapi, memilih lada yang akan dipakai harus mempunyai kualitas yang baik.

Berikut cara memilih lada yang baik, seperti diutarakan Rika Fardani selaku Assistant Marketing Manager Japanese Restaurant Pepper Lunch saat berbincang dengan okezone di Plaza Indonesia, Sudirman, Jakarta, belum lama ini:

Tekstur

Tekstur lada agak besar dan kasar, jadi ketika digilling aromanya tidak akan hilang.

Dirasa dan dicium

Lada kurang bagus, bisa Anda tahu dari baunya. Lada yang bagus akan mengeluarkan aroma yang wangi.

Penyimpanan

Setelah mendapatkan lada yang baik, pastikan penyimpanannya juga baik. Simpan di suhu ruang, jangan dimasukkan ke kulkas dan harus ditempatkan dalam wadah tersendiri. Lada tidak boleh digabungkan dengan daging ataupun ditaruh di lantai yang akan membuatnya terkontaminasi dengan bakteri.

Dipegang

Lada yang baik jika dipegang akan terasa halus atau kasar karena tergantung tingkat penggilingannya.(ftr)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Lada & Butter, Andalan Resto Pepper Lunch

Posted: 18 Aug 2011 03:58 AM PDT

BAGI Anda pencinta makanan Jepang, silakan mencoba makanan yang ditawarkan resto Pepper Lunch. Restoran berlokasi di Plaza Indonesia, Sudirman, Jakarta ini menyediakan makanan Jepang yang mengkhususkan pada steak.

Ketika berada di Pepper Lunch, Anda akan merasa diri berada di Jepang. Selain semua menu yang disajikan adalah masakan Jepang, konsep restoran pun juga dihiasi berbagai ornamen khas Negara Samurai itu.

"Sejarahnya, pertama kali didirikan yaitu di Jepang, pendirinya Chef Kuniyo Itchinose. Orang makan steak itu harus fun dinning, benar-benar duduk lama, dan harganya lumayan mahal. Tapi kami lebih mengolah makanan yang cepat dan enak, maka didirikanlah Pepper Lunch," kata Rika Fardani selaku Assistant Marketing Manager Japanese Restaurant Pepper Lunch kepada okezone di Plaza Indonesia, Sudirman, Jakarta, belum lama ini.

Diutarakannya lagi, lada mendominasi hampir semua menu restoran. Bahkan, pihaknya harus menggiling lada setiap hari untuk memenuhi kebutuhan.

"Karena semua bahan utama kita adalah lada, kita menggiling lada setiap hari. Kalau sudah lewat satu hari, ladanya tidak kita taruh di meja, makanya kita tidak menaruh lada terlalu banyak," lugasnya.

Pengolahan makanan disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, ingin makan cepat atau lebih santai. "Makan siang beda sama makan malam. Kalau makan malam, orang sudah rileks, duduk tenang, dan bisa berlama-lama. Sementara makan siang, orang harus makan cepat-cepat karena masih banyak kerjaan. Lunch menggambarkan fastfood, jadi orang di sini makannya cepat," tukasnya.

Aroma lada yang digunakan Pepper Lunch punya ciri khas karena didatangkan dari Jepang. Aromanya begitu wangi, membuat lada tercium hingga 15 meter dari restoran.

"Di Pepper Lunch, ada dua kunci utama, yaitu lada dan butter. Lada kita benar-benar asli Jepang dan wangi sekali, itu memberikan aroma di masakan. Itu andalan kita," ungkapnya.

Agar punya daya tarik, para konsumen pun benar-benar dimanjakan layaknya berada di rumah, sebab proses masaknya menggunakan hot plate dengan tingkat panas mencapai 250 derajat Celsius.

"Kita kan pakainya hot plate dan untuk mencerminkannya kita pakai lada karena spicy banget rasanya. Di sini, costumer harus memasaknya sendiri. Hot plate-nya kita panasi hingga 250 derajat Celsius," tutupnya.(ftr)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Murah Meriah, Tahu Gejrot Pacu Adrenalin

Posted: 18 Aug 2011 03:44 AM PDT

TAHU yang berbahan dasar kedelai, pas diolah menjadi beragam makanan. Digoreng, dibuat pepes, dibakar, atau yang lainnya, tahu tetap dapat menggelitik di lidah. Apalagi jika diolah menjadi tahu gejrot. Dengan penggabungan cita rasa asin dan pedas, tahu gejrot akan membuat pencinta makanan tergoda untuk mencicipinya.

Selain memiliki rasa yang menggugah selera, kudapan yang satu ini juga murah meriah yakni hanya Rp5.000 per porsi. Tak heran bila situs CNNGo menempatkan tahu gejrot di urutan 32 makanan terbaik Indonesia.

Kudapan asal daerah Cirebon, Jawa Barat ini diolah dengan cara yang sederhana. Tahu gejrot lebih enak disantap selagi panas. Namun seiring dengan perkembangan zaman, makanan yang satu ini cukup ditaruh di Styrofoam untuk membuatnya tetap panas.

Berbeda dengan penyajian yang ditaruh di atas cobek kecil berwarna hitam, aroma tahu gejrot lebih sedap disantap. Dengan perpaduan bumbu seperti bawang merah, bawang putih, serta cabai rawit dan cabai merah, tahu gejrot siap memacu adrenalin Anda.(nsa)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Tidak ada komentar: