Jumat, 02 September 2011

“Otak-Otak Ibu Elly Khas Makassar” plus 2 more

“Otak-Otak Ibu Elly Khas Makassar” plus 2 more


Otak-Otak Ibu Elly Khas Makassar

Posted: 02 Sep 2011 06:22 AM PDT

MAKASSAR - Mudik Lebaran ternyata tak hanya digunakan untuk bersilaturahim dengan keluarga di kampung halaman, tapi kesempatan tersebut juga digunakan para pemudik untuk berburu panganan khas untuk oleh-oleh teman dan tetangga di kota asal.

Salah satunya adalah Otak-Otak Ibu Elly yang menjadi primadona warga Makassar untuk diburu saat mudik khususnya mereka yang mudik ke Makassar. Di masa libur Lebaran kali ini gerai penjualan oleh-oleh yang terletak di Jalan Kijang, Makassar ini, nampak dipenuhi pembeli untuk mereka bawa pulang.

Salah satu warga asal Banda Aceh yang mengisi libur Lebaran di rumah keluarganya di Makassar ini mengaku sengaja datang ketempat ini atas rekomendasi temannya. Ia berencana membagikan makanan tersebut untuk tetangga dan kawan-kawannya.

Pemilik gerai ini mengaku para pembelinya berasal dari berbagai kota di Indonesia terutama Jakarta. Menurut salah satu pegawai, banyak para pengunjung yang berasal dari luar kota menjadikan otak-otak sebagai oleh-oleh.

Selain otak-otak, di gerai yang sudah berdiri sejak 1995 ini juga menjual aneka penganan lain seperti kacang telur, sup pallu basa dan lain-lain.
(Ahmad Muhyiddin/SUN TV/ahm)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Kue Dumlek, Oleh-Oleh Lebaran Khas Nganjuk

Posted: 02 Sep 2011 05:50 AM PDT

NGANJUK - Di musim mudik aneka makanan khas tradisional banyak diburu oleh para pemudik sebagai oleh-oleh dari kampung halaman. Di Nganjuk, Jawa Timur, ada sebuah kue bernama Dumlek yang menjadi ciri khas buah tangan di saat Lebaran.

Selain rasanya yang nikmat, kue khas dengan bungkus pelepah pinang tersebut, kini juga sudah tergolong sebagai kue yang langka.

Sejak pagi, setiap hari, pasaran Wage dan Kliwon, Mbah Lanang, warga Desa Gondang Kecamatan Gondang, Nganjuk ini mengambil sisa kue Dumleknya di rumah dan dibawa ke Pasar Gondang.

Dengan mengendarai sepeda angin, Mbah Lanang meluncur penuh semangat ke pasar. Maklumlah, di Lebaran seperti ini, kue Dumleknya sedang dicari banyak orang. Ada yang sekedar untuk suguhan tamu di rumah, namun banyak juga di antaranya pemudik yang sengaja ingin mencari makanan khas dari Nganjuk sebagai oleh-oleh saat kembali ke kota asal.

Sebab, tak hanya nikmat, kue Dumlek merupakan salah satu jenis kue yang sudah tergolong langka dan pembuatnya hanya tersisa tiga orang saja di Nganjuk. Di pasar Gondang, kue Dumlek yang terbuat dari tepung beras, gula merah dan santan kelapa ini tidak dibuat dan dijual setiap hari, tetapi hanya pada hari-hari tertentu seperti saat Lebaran ini.

Mbah Mirah, istri Mbah Lanang, yang sudah turun temurun menjadi produsen dan penjual kue Dumlek, mengaku tidak tahu kenapa hanya pada saat waktu tertentu saja membuat kue Dumlek.

"Saya hanya mengikuti dan meneruskan ketentuan dan tradisi dari leluhur," ujar Mbah Mirah.(Mukhtar Bagus/SUN TV/ahm)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Cici Tegal Santap 200 Udang Sehari

Posted: 01 Sep 2011 07:13 PM PDT

BEGITU gemarnya dengan udang, Sri Wahyuningsih atau akrab disapa Cici Tegal bisa menghabiskan salah satu jenis seafood tersebut hingga 200 buah. Uniknya, itu dilakukan Cici hanya dalam satu hari. Wow!

"Aku suka banget sama seafood, dari semua jenis seafood aku suka sekali dengan udang. Kalau aku makan udang bisa 200 buah sekali makan kuhabiskan," kata Cici Tegal saat berbincang dengan okezone di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Bak mengudap kacang, aktris yang melejit namanya bersama Bagito Grup ini menghabiskan udang tanpa rasa bersalah.

"Aku makan udang bisa kayak makan kacang, ternyata itu kolesterol banget. Dan aku menguranginya sekarang, karena aku kolesterol," jelasnya.

Udang laut memiliki rasa yang manis. Selain itu, tekstur daging udang yang kenyal membuat wanita bertutup kepala itu ketagihan.

"Enak banget di lidah, apalagi kalau udang laut itu dagingnya manis," paparnya seraya tersenyum.

Lantaran senang mengonsumsi udang, bintang film "Doa yang Mengancam" itu tahu bagaimana mengupas udang yang baik sebelum di santap.

"Kenyal, kalau udang itu masih baru dan dimasukin warnanya merah, itu yang enak. Saking seringnya aku makan udang, aku bisa membuka kulit udang cuma tiga gerakan saja," tutupnya.(nsa)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Tidak ada komentar: