Jumat, 07 Oktober 2011

“Bir Pletok Minuman Sehat” plus 2 more

“Bir Pletok Minuman Sehat” plus 2 more


Bir Pletok Minuman Sehat

Posted: 07 Oct 2011 04:53 AM PDT

BILA mendengar kata bir, tentu Anda langsung menganggap minuman tersebut memabukkan. Namun, tidak begitu dengan minuman yang satu ini.

Bir identik dengan alkohol, tidak demikian dengan bir pletok. Minuman khas asli Betawi ini justru jauh dari alkohol, dan baik untuk kesehatan.
 
"Ada beberapa versi, di saat zaman Belanda ada masyarakat ikut-ikutan minum bir sama orang Belanda. Dulu dibuatnya cuma pakai lada, jahe sama kayu secang dan itu dibuat, sama-sama minum, sama-sama keringatan, tapi orang Belanda pada mabuk, sedangkan kita sehat," kata Indra Sutisna selaku pakar masyarakat Betawi saat berbincang dengan okezone, belum lama ini.
 
Minuman ini mulai muncul di budaya Betawi Tengah dan sengaja dibuat untuk kebutuhan badan manusia kala itu.
 
"Bir pletok ini bisa menghangatkan badan, melancarkan darah, menghilangkan pegal-pegal, mencegah masuk angin," paparnya.
 
Para ahli memang membuat minuman ini tanpa alkohol di dalamnya.
 
"(Bir pletok) minuman khas Betawi, dan ini ada di budaya Betawi tengah. Ada beberapa faktor yang mengilhami minuman asli Betawi ini, minuman ini sama sekali tidak mengandung alkohol sama sekali, dia dari bahan rempah-rempah dan utama disini pakai jahe merah, kapulaga, kayu misoye buat pewangi, daun jeruk purut, kayu manis, kayu secang buat pewarna, serai, daun pandan, gula dan garam , buah pala, lada hitam dan itu diracik dengan cara direbus," paparnya.
 
Bir pletok punya rasa yang beragam, dari pedas hingga membuat badan manusia jadi panas.
 
"Aroma jahe, karena pedas dan bahan lebih alami untuk penghangat badan hanya jahe dan jahe lebih murah ketimbang lainnya, pedas juga ada karena ada ladanya. pewangi daun jeruk atau serai," tutupnya.(nsa)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

Wah, Jamu Diracik hingga 2 Pekan

Posted: 07 Oct 2011 01:36 AM PDT

JAMU memang memiliki banyak khasiat, namun pernahkah Anda tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat jamu?

"Awalnya jamu harus melalui proses pengeringan dan pengolahan yang semuanya dilakukan dengan cara tradisional. Kenapa harus tradisional, agar rasa keaslian dari rempah-rempah yang digunakan masih terasa alami," kata Sakum selaku Promosi PT Nyonya Meneer Semarang saat berbincang dengan okezone.

"Makanya buat jamu bisa memakan waktu yang lama sekali, yaitu sepekan hingga dua pekan," sambungnya di Hotel Intercontinental Jakarta MidPlaza, Jalan Jendral Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (6/10/2011).

Kesabaran tinggi menjadi faktor yang dibutuhkan agar berhasil mengolah jamu. "Bahan dasarnya mentah, dicuci bersih, dipotong, dijemur, ditumbuk, baru dikeringkan lalu dikemas. Nah menjalani semua proses ini dibutuhkan kesabaran karena dalam mengolah jamu itu harus benar-benar teliti," jelasnya.

Awalnya, jamu diciptakan untuk menyembuhkan penyakit. Jamu menjadi bagian dari prosedur penyembuhan alami.

"Dulu sebelum ada obat farmasi dan untuk kesehatan, karena belum ada dokter, jamu dibuat dan dicoba diramu. Awal pembuatan hanya dari tanaman di halaman, dan jamu pertama kali dibuat yaitu jampi usus untuk sariawan dan usus pencernaan," imbuhnya.

Selain memiliki banyak khasiat, jamu yang memiliki cita rasa pahit beraroma sangat khas.

"Jamu itu kan dari tumbuh-tumbuhan alami, dan disatukan sama brotowali, makanya jamu itu pahit. Selain itu bau jamu khas, karena dibuat dari kapulaga, dan itu bikin wangi. Ada juga kayu manis dan biji pala," tutupnya.(nsa)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Menguak Kehebatan Jamu

Posted: 07 Oct 2011 12:15 AM PDT

BICARA soal jamu, mungkin selama ini Anda hanya mengonsumsinya saja tanpa mengetahui kehebatan minuman berbasis rempah-rempah alami.

"Semua didapatkan dari petani, bahan pokoknya jamu itu sama seperti kita mengonsumsi nasi, dan nasinya jamu. Temulawak, lengkuas, dan jahe dan itu bahan dasar utama yang digunakan dalam membuat jamu," kata Sakum selaku promosi PT Nyonya Meneer Semarang saat berbincang dengan okezone di Hotel Intercontinental Jakarta MidPlaza, Jalan Jendral Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (6/10/2011).

Tiga bahan dasar utama itu kemudian dicampurkan dengan bahan-bahan lain yang sesuai dengan kebutuhan.

"Semua dasarnya itu, dan nanti tinggal dicampur sama yang lain. Semua memang punya khasiat masing-masing, temulawak untuk fungsi hati, jahe menghangatkan, lengkuas untuk rematik," jelasnya.

Memiliki banyak khasiat, jamu umumnya bercita rasa pahit. Pasalnya, jamu terbuat dari bahan rempah-rempah alami.

"Itu sifatnya perawatan, dan bukan cuma sakit saja diminum, jamu itu jangka panjang. Kekuatan jamu itu kan herbal, memang kalau sama obat itu berbeda," imbuhnya.

Dengan perkembangan zaman, pengolahan jamu pun semakin berbeda.

"Jamu memang pahit dan untuk mengurangi rasa pahit itu bisa disatukan sama madu. Tapi zaman sekarang sudah dibuat pil, dan kalau buat hilangkan rasa pahit minum jahe," tutupnya.(nsa)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

Tidak ada komentar: