Senin, 17 Oktober 2011

“Cicipi Bandeng di Atas Kayu Tiang Listrik” plus 2 more

“Cicipi Bandeng di Atas Kayu Tiang Listrik” plus 2 more


Cicipi Bandeng di Atas Kayu Tiang Listrik

Posted: 17 Oct 2011 05:00 AM PDT

KOTA Semarang, Jawa Tengah dikenal dengan oleh-oleh khas bandeng presto. Namun kini, Anda bisa menikmati bandeng dalam beragam penyajian dan rasa.

Salah satu tempat yang bisa dipertimbangkan menjadi destinasi wisata kuliner adalah Rumah Makan Kampung Laut. Kampung Laut berlokasi di Komplek Puri Maerokoco, Semarang Barat. Dari Stasiun Tawang, rumah makan ini bisa dijangkau dalam waktu 15 menit. Yang menjadi keunggulan Kampung Laut adalah suasana dan pemandangannya.

Suasana Kampung Laut terasa asri dan tenteram karena dipenuhi tumbuhan dan dibangun di atas penampungan air seluas 4 hektare. Sejauh mata memandang, Anda bisa melihat hamparan air yang mengelilingi rumah makan.

Rumah Makan Kampung Laut terdiri dari rumah makan terapung dan tempat pemancingan. Interior rumah makan kental dengan nuansa kayu berwarna cokelat tua. Ini terlihat dari tiang penyangga dan ruang makan yang berupa gazebo.

Menurut Supervisor Kampung Laut, Rahmadi, kayu sengaja dipilih untuk menonjolkan suasana pedesaan. Kayu yang digunakan adalah jenis ulin dan bengkirai. Yang unik, kayu bengkirai merupakan kayu bekas tiang listrik yang didatangkan dari Bandung, Surabaya, dan Kalimantan.

"Kenapa milih kayu tiang listrik? Karena semakin kena air, semakin keras. Selain itu, tahan keropos," jelas Rahmadi.

Nuansa pedesaan ditambah dengan lampu templok di setiap gazebo dan atap yang terbuat dari ilalang. Rumput ini didatangkan khusus dari Bali.

Kampung Laut memiliki 13 gazebo kecil dan 4 gazebo besar. Gazebo kecil bisa menampung 10 orang sementara gazebo besar bisa menampung 20 hingga 50 orang. Selain makan di gazebo, Anda bisa makan di bagian samping rumah makan yang beratapkan langit. Saat malam hari, suasana di tempat ini terasa romantis karena diterangi langit di malam hari dan beberapa lampu.

Rumah makan ini menjual beragam makanan laut. Namun yang paling diunggulkan adalah ikan bandeng dengan beragam penyajian, mulai dari digoreng hingga steam. Agar pengunjung mendapatkan ikan dalam keadaan segar, Kampung Laut memelihara bandeng dan beberapa jenis ikan di kolam pemancingan yang mengelilingi rumah makan. Menurut Rahmadi, Kampung Laut sengaja mengandalkan bandeng karena ikan ini merupakan khas kota Semarang.

Kampung Laut buka setiap hari, Senin-Jumat buka pukul 11.00-22.30 WIB. Pada hari Sabtu buka hingga pukul 23.00 WIB dan pada Minggu atau hari libur nasional buka pukul 10.00 WIB hingga 22.30 WIB. Harga makanan yang ditawarkan cukup terjangkau. Seporsi bandeng isi tiga ekor dijual dengan harga Rp25 ribu. Untuk nasi, tidak dipungut biaya.

Jika bosan makan, Anda bisa memancing. Lokasi memancing ada di sekeliling rumah makan. Dengan membayar Rp10 ribu, Anda bisa mendapatkan alat pancing. Jika berhasil memancing ikan, per kilogramnya dihargai Rp20 ribu. Anda bisa memakan hasil pancingan, tapi harus membayar Rp50 ribu per kg.(ftr)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Jangan Cuci Daging dengan Air!

Posted: 17 Oct 2011 03:37 AM PDT

SELAMA ini, orang hanya tahu membersihkan daging dengan air untuk menghilangkan kotorannya. Padahal, cara ini keliru.

Kini, kebersihan air belum terjamin baik untuk syarat kelaikan air minum. Inilah alasan daging sebaiknya tidak dicuci menggunakan air.

"Kalau daging tersebut kotor, lebih baik Anda memotongnya pada bagian daging yang kotor tersebut," kata Chef Vindex Tengker, salah seorang juri MasterChef Indonesia ketika ditemui di kawasan SCBD, Sudirman, Jakarta, belum lama ini.

Bila daging dibersihkan dengan air, baik air dingin ataupun air hangat, rasa asli daging akan hilang. "Bersihkan cukup dengan dibuang saja bagian kotoran pada daging. Kalau dengan air, juicy dari daging akan hilang," ungkapnya.

Setelah kotoran dibuang, Anda tinggal menyimpannya pada wadah khusus daging. Dan bila ingin dipakai keesokan hari, Anda tinggal menutupnya dengan plastik kedap udara lalu dimasukkan ke freezer.

"Simpan daging yang belum dimasak tanpa digabungkan dengan jenis daging lainnya. Dan, jangan ditumpuk dengan daging yang lain pula," tegasnya.

Bila ingin daging tersimpan baik, buatlah potongan dalam bagian-bagian kecil. "Bila semua itu dilakukan dengan benar, maka ketahanan dari daging bisa lebih lama," tutupnya.(ftr)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

3 Kuliner Yogyakarta Hadir di Pernikahan Ubai-Reni

Posted: 17 Oct 2011 02:59 AM PDT

SEBANYAK 200 angkringan gratis hadir pada pesta pernikahan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudanegara (Achmad Ubaidillah) dengan GRAj Nurastuti Wijareni (GKR Bendara). Turut hadir tiga makanan khas Yogyakarta lainnya.

"Selain angkringan, ada juga bakso, bakmi ayam, dan gudeg," kata Widihasto Wasana Putra selaku Koordinator Sekretariat Bersama (sekber), pemrakarsa angkringan gratis kepada okezone, Senin (17/10/2011).

Menurutnya, makanan yang dihadirkan merupakan khas Yogyakarta. Tujuannya, memperkenalkan kuliner khas Yogyakarta kepada wisatawan asing. Maklum, pengunjung yang datang diperkirakan bukan hanya warga Yogyakarta.

Menurutnya, ajang kuliner semacam ini bukanlah kali pertama diadakan. "Kalau acara seperti ini sudah sering sekali Beliau (Sri Sultan HB X) adakan, tapi yang direspon oleh masyarakat Yogyakarta, ini baru kali pertamanya," tuturnya.

Selain spontanitas dari masyarakat, 200 angkringan gratis di pernikahan Ubai-Reni ini juga didukung banyak pihak termasuk Pemerintah Daerah Yogyakarta. "Ide ini dari semua lapisan, mulai dari instansi, komunitas, pelajar, dan masih banyak lagi," tutupnya.(ftr)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

Tidak ada komentar: