Sabtu, 08 Oktober 2011

“Croissant ala Chef Atsushi Murata” plus 2 more

“Croissant ala Chef Atsushi Murata” plus 2 more


Croissant ala Chef Atsushi Murata

Posted: 08 Oct 2011 04:06 AM PDT

KUDAPAN yang satu ini sekilas mirip dengan pastel. Jenis kue yang berasal dari negara Prancis ini dinamai "croissant" karena bentuknya mirip bulan sabit.

 
Bila ingin membuat roti bulan sabit dengan tangan, membutuhkan kesabaran karena dapat memakan waktu beberapa hari. Untuk menambah selera, dalam mengonsumsi "croissant", beragam pilihan rasa telah disajikan di negara-negara lain. Roti bulan sabit ini juga bisa diisi dengan cokelat, daging, dan sebagainya. Berikut ini cara pembuatan "croissant" ala Chef Atsushi Murata.
 
Bahan:
 
300 gram tepung
15 gram ragi kering
Gula
Garam
Susu
Air
Mentega
 
Cara Membuat:
1. Masukkan tepung, ragi kering, gula, dan garam lalu diaduk sampai rata. Setelah merata tambahkan susu secukupnya, aduk kembali lalu tambahkan air kemudian aduk sampai merata.
 
2. Perlu diperhatikan dalam mengaduk adonan, Anda sebaiknya menggunakan sarung tangan plastik. Maksudnya adalah agar bakteri pada tangan tidak masuk ke dalam adonan, utamakan kebersihan dalam membuat kudapan "pastry" dan "bakery".
 
3. Setelah diaduk terus menerus, Anda harus mengolah adonan tersebut sampai terasa keras. Lalu tambahkan sedikit mentega kemudian aduk kembali.
 
4. Setelah terasa keras, maka adonan dimasukkan ke dalam kulkas. Diamkan beberapa menit saja, selanjutnya tambahkan mentega. Diamkan selama beberapa jam. Fungsi dimasukkan ke dalam kulkas agar adonan yang telah diolah bisa mengembang sehingga mentega bisa meresap ke dalam "croissant" tersebut. Kemudian, bentuklah adonan tersebut dengan cara dicetak segitiga. (ade)
(tty)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Breadtalk Sajikan Roti Lembut

Posted: 08 Oct 2011 03:58 AM PDT

BERAGAM varian roti banyak dijajakan di berbagai gerai makanan. Demi memuaskan konsumen, Breadtalk kini hadir di tengah kehidupan Anda dengan menyajikan roti yang lembut.

 
"Untuk di Indonesia jadi keunggulan, suka yang soft, Indonesia punya rasa lidah yang beragam," ulas Gita Herdi selaku Marketing dan Communication Senior Manager Breadtalk saat ditemui di acara "Deliciously Haunted", Resto Mad for Garlic, Grand Indonesia, Sudirman, Jakarta Selatan, Jumat (7/10/2011).
 
Selain punya cita rasa yang lembut, ada satu bahan utama yang digunakan untuk menguatkan rasa dari Breadtalk itu sendiri.
 
"Roti yang kita buat itu dari gandum, meskipun tetap ada ragi kering yang kita pakai. Akan tetapi itu sebatas tambahan saja," jelasnya.
 
Gita mengutarakan, Breadtalk bukan hanya menyajikan roti saja. Namun, banyak jenis kue yang bisa Anda pilih untuk dikonsumsi.
 
"Konsep 'one back shop good', dan bukan sebatas jual roti saja tetapi ada kue, 'cookies' dan semua serba-'fresh'," jelasnya.
 
Agar lebih menambah kepuasan dalam mengonsumsi kudapan yang masuk golongan "pastry" dan "bakery" ini, Breadtalk pun juga menyajikan ragam variasi yang bertema demi memberikan "eye catching" pada para konsumen.
 
"Kita memang harus mengikuti kampanye produk dan itu bisa diganti. Kita selalu muncul di setiap bulan dan yang sekarang bertema 'Halloween'," pungkasnya. (ade)
(tty)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

Pastry Tradisional Jepang sejak 300 Tahun Lalu

Posted: 08 Oct 2011 03:15 AM PDT

TAK dipungkiri bila hingga saat ini Jepang menjadi negara penghasil "pastry" dan "bakery" terbaik di Asia. Bahkan, cara membuat "bakery" dan "pastry" yang masih bersifat tradisional masih dipertahankan.

 
"Di Jepang itu tetap mempertahankan cara tradisional, cara tersebut sudah ada sejak 300 tahun lalu," kata Chef Atsushi Murata selaku Executive Chef Breadtalk saat ditemui di acara "Deliciously Haunted", Resto Mad for Garlic, Grand Indonesia, Sudirman, Jakarta Selatan, Jumat (7/10/2011).
 
Cara pembuatan tradisional menjadikan Jepang sebagai negara yang mempunyai kekuatan pada kudapan "pastry" dan "bakery".
 
"Di Jepang banyak toko 'pastry' dan 'bakery'. Semuanya yang enak, buatan tradisional karena kalau pakai teknologi mesin tetap ada yang kurang di rasa," ulasnya.
 
Terlebih, Chef Astsuhi mengungkapkan bila olahan tradisional ternyata lebih terasa enak ketimbang menggunakan teknologi mesin. Kenapa ya?
 
"Membuat 'pastry' dan 'bakery' itu harus menggunakan naluri serta perasaan, apalagi dalam mengolah adonannya berbeda dengan memakai mesin. Mesin hanya berasa dibuat oleh manusia," paparnya.
 
Selain itu, bila menggunakan mesin hanya mengandalkan kekuatan dari teknologi mesin saja serta tinggal memilih aturan yang digunakan.
 
"Kalau olahan tradisional itu benar-benar dibuat secara alami, tanpa ada sentuhan bahan pengawet sedikit pun," pungkasnya.
(tty)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Tidak ada komentar: