Jumat, 14 Oktober 2011

“Manggar, Kota 1001 Warung Kopi” plus 2 more

“Manggar, Kota 1001 Warung Kopi” plus 2 more


Manggar, Kota 1001 Warung Kopi

Posted: 14 Oct 2011 03:49 AM PDT

SELAMAT datang di Kota 1001 Warung Kopi, demikian gapura di depan Kota Manggar, Kabupaten Belitung Timur menyambut para tamunya.

 
Di sepanjang jalan Anda akan menemukan banyak sekali warung kopi berdiri, baik warung kopi yang luasnya kecil hingga yang paling besar.
 
Warung kopi ini rata-rata buka pada sore hari, pukul 15.00 dan akan tutup pada 01.00, meski terkadang jika datang waktu ramainya bisa tutup hingga pukul 03.00.
 
Jenis kopi yang dihidangkan sangat bervariasi, mulai dari kopi susu, kopi hitam ukuran kecil atau yang besar biasanya mereka sebut kopi O, serta minuman lainnya. Meski santapan yang disediakan warung kopi hanyalah mi rebus, namun para pengunjung tetap ramai berkunjung.
 
Seperti halnya Warung Kopi Akui, sejak buka pukul 15.00, warung ini sudah ramai dikunjungi para penikmat kopi, salah satunya Ahin (57). Dia rela mengayuh sepedanya dari rumah yang berjarak lima kilometer hanya untuk menikmati kopi.
 
"Saya biasa ngopi ke sini, hampir tiap hari. Biasanya sebelum cari ikan atau sepulangnya cari ikan. Saya jarang ngopi di rumah, lebih enak di sini," katanya sambil menyeruput kopi susunya.
 
Harga yang dibanderol Warung Kopi Akui pun terbilang murah, hanya Rp3.000 untuk rata-rata segelas kopi yang dihidangkan, namun di warung yang lain biasanya mencapai Rp4.000-Rp5.000.
 
Warung kopi yang terletak di Jalan Trem ini memang banyak dikunjungi para penikmat kopi, mungkin lantaran harganya yang memang jauh lebih murah dibandingkan warung kopi yang lain.
 
Ada beberapa pula warung kopi yang akan mengenakan biaya tambahan jika Anda menumpang untuk mengisi baterai telepon genggam, tarifnya sebesar Rp3.000 untuk satu perangkat.
(tty)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Warkop Pangku Manggar, Ngopi sambil Mangku

Posted: 14 Oct 2011 12:30 AM PDT

PERNAHKAH Anda mendengar kopi pangku? Bila belum, datanglah ke Manggar, Belitung Timur.


Entah siapa yang pertama kali melontarkan istilah kopi pangku tersebut, tapi kenyataannya memang sudah banyak para penikmat kopi menikmati hangatnya kopi sambil memangku sang pelayan.

Banyak para pelayan warung kopi di Manggar yang masih berusia muda dan hanya mengenakan celana pendek saat melayani pelanggannya. Para pelayan warung kopi itu pun bukan penduduk lokal, mereka biasanya datang dari wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, bahkan Nusa Tenggara Barat.

Salah satunya adalah pelayan warung kopi di Jalan Trem, pelayan warung kopi tersebut berasal dari Bogor, Jawa Barat. Pelayan yang bertubuh sintal ini bermuka masam ketika okezone datang.

Ketika ditanya kenapa mau jauh-jauh datang dari Bogor hanya untuk menjadi pelayan kopi, dia hanya mengelak dan mengatakan, "Ini lebih parah (sambil menunjuk salah satu temannya), dia tiga kali naik pesawat untuk jadi pelayan kopi".

Salah satu pelayan tersebut ketika ditanya mengaku berasal dari Lombok, tapi dia enggan mengatakan alasan lebih tertarik menjadi pelayan kopi yang berpenghasilan Rp400-500 ribu sebulan.

Salah satu pelanggan kopi asal Tanjung Pandan, Belitung Andi (30) mengatakan, bahwa ada beberapa warung kopi yang melayani pelanggannya sambil memberikan layanan pangkuan.

"Banyak bang kalau yang kaya gitu di sini, tapi memang enggak semuanya ada. Itu juga ada biaya tambahan, yah ibaratnya uang tip buat mereka," ujar pria keturunan ini.

Lain lagi dengan pernyataan Maman (26), pria yang sudah bekerja sebagai pelayan kopi selama 4 tahun ini mengatakan, bahwa di warung kopinya tidak melayani pangkuan seperti itu.

"Enggak ada mas, kami di sini melayani kopi saja seperti biasa. Para pelanggan juga biasanya asyik untuk main gaple dan remi, tapi itu juga enggak ada yang pakai duit. Senang-senang saja," ujarnya saat ditemui di Warung Kopi Akui.

Ironisnya, banyak kaum muda usia sekolah yang ikut menikmati kopi di beberapa warung kopi remang-remang. Mereka biasanya keluar malam hari dan akhir pekan. Kebiasaan ini mereka sebut "biak-biak" ajang kumpul anak muda.

(tty)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Wakop Pangku Manggar, Ngopi sambil Mangku

Posted: 14 Oct 2011 12:30 AM PDT

PERNAHKAH Anda mendengar kopi pangku? Bila belum, datanglah ke Manggar, Belitung Timur.


Entah siapa yang pertama kali melontarkan istilah kopi pangku tersebut, tapi kenyataannya memang sudah banyak para penikmat kopi menikmati hangatnya kopi sambil memangku sang pelayan.

Banyak para pelayan warung kopi di Manggar yang masih berusia muda dan hanya mengenakan celana pendek saat melayani pelanggannya. Para pelayan warung kopi itu pun bukan penduduk lokal, mereka biasanya datang dari wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, bahkan Nusa Tenggara Barat.

Salah satunya adalah pelayan warung kopi di Jalan Trem, pelayan warung kopi tersebut berasal dari Bogor, Jawa Barat. Pelayan yang bertubuh sintal ini bermuka masam ketika okezone datang.

Ketika ditanya kenapa mau jauh-jauh datang dari Bogor hanya untuk menjadi pelayan kopi, dia hanya mengelak dan mengatakan, "Ini lebih parah (sambil menunjuk salah satu temannya), dia tiga kali naik pesawat untuk jadi pelayan kopi".

Salah satu pelayan tersebut ketika ditanya mengaku berasal dari Lombok, tapi dia enggan mengatakan alasan lebih tertarik menjadi pelayan kopi yang berpenghasilan Rp400-500 ribu sebulan.

Salah satu pelanggan kopi asal Tanjung Pandan, Belitung Andi (30) mengatakan, bahwa ada beberapa warung kopi yang melayani pelanggannya sambil memberikan layanan pangkuan.

"Banyak bang kalau yang kaya gitu di sini, tapi memang enggak semuanya ada. Itu juga ada biaya tambahan, yah ibaratnya uang tip buat mereka," ujar pria keturunan ini.

Lain lagi dengan pernyataan Maman (26), pria yang sudah bekerja sebagai pelayan kopi selama 4 tahun ini mengatakan, bahwa di warung kopinya tidak melayani pangkuan seperti itu.

"Enggak ada mas, kami di sini melayani kopi saja seperti biasa. Para pelanggan juga biasanya asyik untuk main gaple dan remi, tapi itu juga enggak ada yang pakai duit. Senang-senang saja," ujarnya saat ditemui di Warung Kopi Akui.

Ironisnya, banyak kaum muda usia sekolah yang ikut menikmati kopi di beberapa warung kopi remang-remang. Mereka biasanya keluar malam hari dan akhir pekan. Kebiasaan ini mereka sebut "biak-biak" ajang kumpul anak muda.

(tty)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Tidak ada komentar: