Selasa, 25 Oktober 2011

“Sensasi Telur Angsa di Foie Gras Chawan Bushi” plus 2 more

“Sensasi Telur Angsa di Foie Gras Chawan Bushi” plus 2 more


Sensasi Telur Angsa di Foie Gras Chawan Bushi

Posted: 25 Oct 2011 05:18 AM PDT

SAAT diperhatikan sekilas, Foie Gras Chawan Bushi mirip dengan kembang tahu. Sebab, terasa lembut sama persis seperti kembang tahu. Namun, ada rahasia lain yang membuat makanan satu ini terasa sensasional.

Telur angsa, ternyata menjadi rahasia di balik rasa lembut Foie Gras Chawan Bushi. Saat disantap, aroma serta rasa telurnya terasa sangat lembut. Tak heran jika sekali mencicipi langsung ketagihan untuk mencobanya lagi.

Didominasi rasa asin dari kecap Jepang soyunya, Foie Gras Chawan Bushi terasa lebih nendang. Sebab di dalam makanan tersebut dicampur dengan jamur dan hati.

"Jadi ini dibuat dua bagian proses yang pertama itu men-steam telurnya, putih telur di-steam bersama hati dan jamur shitake, di-steam dengan api kecil langsung di wadah menyerupai ramekin tahan panas. Setelah di-steam, proses kedua membuat semacam saus, terbuat dari soyu dengan sari hati. Gabungan soyu dan sari hati ini yang membuat rasa jadi dominan asin," papar Robby, salah satu pelayan Qi Restaurant di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta Selatan.

Secara keseluruhan, rasa serta bahan yang ada di dalam Foie Gras Chawan Bushi menyatu dengan pas. Mulai dari jamur, hati, serta soyunya membuat makanan yang satu ini paling nikmat di resto tersebut.

"Karena memang jamur sangat pas dengan olahan telur terlebih saat digigit, lembutnya itu juga pas. Memang, karena Jepang sangat suka dengan rasa asin," jelasnya.

Untuk tak mengubah cita rasa aslinya, telur menjadi bahan utama Foie Gras Chawan Bushi.

"Tahu kan hancur, putih telur memang basic dasar dari telur. Memang tampak seperti tahu, telurnya dari telur angsa," tutupnya.(nsa)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Sate Kambing Tosoto yang Empuk

Posted: 25 Oct 2011 04:15 AM PDT

BILA Anda mengaku pencinta sate kambing, kurang afdol rasanya jika tidak mencicipi sate kambing Tosoto. Apa pasal?

Sekilas, sate kambing yang satu ini tampak seperti sate biasa. Dengan cara penyajian yang sama, dilengkapi kecap manis dan beberapa potong cabe rawit hijau, tomat, serta bawang merah, sate ini tampak tak ada beda dengan yang lain. Lalu, apa yang membedakannya?

"Daging kambing yang kita pakai untuk sate adalah dari daging domba," kata Harry Indrawan selaku pemilik frenchise resto Tosoto Tanjung Duren, Jakarta Barat belum lama ini kepada okezone.

Selain daging domba yang digunakan, dagingnya pun didatangkan langsung dari daerah asalnya yaitu di Jember, Jawa Timur.

"Daging kambing yang saya gunakan adalah berusia 5 bulan dan ini jenis kambing gimbas dari Jember langsung, ya sejenis domba," ucapnya.

Selain itu diyakini olehnya, bahwa sate kambing istimewa ini hanya ada di tosoto miliknya walaupun memang tak dipungkirinya sudah banyak cabang tosoto lainnya.

Tak hanya itu saja, kalau biasanya sate kambing yang dijual pada umumnya terdapat sedikit lemak, namun lemak yang ada pada sate kambing buatannya ini diambil dari buntut kambing.

"Lemak dari buntut lebih soft dari rasa, kadar kolesterol lebih rendah. Pas dibakar juga terasa dan sensasinya beda," pungkasnya.(nsa)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.



image

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Ustadz Solmed: Lidah Saya Kampungan

Posted: 25 Oct 2011 03:21 AM PDT

USTADZ Solmed mengaku bukan pencinta masakan asing. Tak heran jika calon suami April Jasmine ini enggan mencicipi kuliner Western atau Asia. Apa alasannya?

"Lidah saya itu lidah kampungan, lidahnya orang kampung, makanya saya kurang menikmati makanan selain Indonesia," kata Ustadz Solmed saat berbincang dengan okezone melalui telepon genggamnya, Selasa (25/10/2011).

Kendati telah berusaha dengan keras untuk menikmati kuliner asing, namun pria kelahiran 19 Juli 1983 ini tetap tak bisa melakukannya.

"Enggak tahu kenapa ya, saya tetap tidak bisa makan di luar masakan Indonesia. Lidah saya memang enggak cocok," ungkapnya, jujur.

Berbeda dengan April, calon istrinya justru menggemari makanan asing.

"Kalau April, dia mah bisa makan semuanya, terkadang sih ada rasa iri cuma mau diapain lagi. Sayanya saja tidak bisa makan, kalau makanan Indonesia saya pasti makan," tandasnya.(nsa)


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.



image

Tidak ada komentar: