Selasa, 21 Januari 2014

“Perjuangan Berliku Menjadi Seorang Chef” plus 2 more

“Perjuangan Berliku Menjadi Seorang Chef” plus 2 more


Perjuangan Berliku Menjadi Seorang Chef

Posted: 21 Jan 2014 07:16 AM PST

PERSEPSI yang ditunjukkan di acara televisi akhir-akhir ini bahwa dunia kuliner seolah-olah menjadi dunia yang kelihatannya enak, bisa cepat terkenal, mudah untuk dilakukan, dan bisa bertemu dengan orang-orang ternama karena memasak.

Tidak ada yang salah tentang persepsi tersebut. Namun, untuk mencapai titik sebagai chef atau seseorang yang jago masak, butuh proses yang panjang dan tidak mudah, bisa dikatakan penuh lika-liku. Karena itu, seorang masterchef seperti Gordon Ramsay pun mempunyai perjalanan yang panjang.

Meniti karier sebagai commis chef (asisten chef) hingga merasakan rasanya di-bully oleh seniornya kala bekerja di salah satu restoran di London, Inggris. Hingga dia memutuskan mempelajari masakan Prancis di Paris dan bekerja di restoran di Kota Mode tersebut. Bekerja di restoran pun tidak mudah. Berbagai tekanan memengaruhi mental Ramsay.

Dia memutuskan untuk bekerja di Private Yacht. Kembali ke London, sehabis melewati perjalanan yang panjang, Ramsay menjadi head chef di 3 Michelin Restaurant. Setelah lima tahun, dia memutuskan untuk membuka usaha restoran sendiri. Dari hasil kerja keras dan berbekal pengalaman, dia kini memiliki 23 restoran.

"Sekarang orang melihat saya sebagai orang yang sukses. Saya pernah gagal, tapi saya disiplin. Dan, saya belajar dari kegagalan itu," ujar Ramsay.

Hal serupa juga ditunjukkan chef asal Prancis, Auguste Escoffier. Legendaris dunia kuliner ini mengawali karier sebagai pegawai magang di restoran pamannya. Dia juga pernah menjadi army chef. Lantas, bersama Cesar Ritz, Escoffier membangun bisnis hospitality. Di situ Escoffier yang menjadi chef-nya.

Menciptakan banyak resep, hingga disukai banyak orang, itu dilakukannya melalui proses panjang. Kuliner di Prancis terpengaruh dari masakan Italia. Pada abad ke-17 Chef Francois Pierre la Varenne dan Marie- Antoine Careme mengubah masakan Negeri Menara Eiffel berbeda dengan masakan Italia. Dan, Escoffer-lah yang membawa masakan Prancis lebih modern.

Di Prancis, kuliner sudah menjadi bagian dari budaya. Apalagi untuk menjadi chef, mereka sudah memulainya sejak usia remaja (±15 tahun). Ada yang memulai dengan magang di restoran sebagai pencuci piring. Mungkin agak aneh, bagaimana bisa seorang dishwasher bisa menjadi chef.

Dengan lokasi kerja yang berdekatan dengan chef, seorang dishwasher bisa mengeruk keuntungan dengan belajar memasak dengan para chef sesudah bekerja. Dari intensitas belajar itulah, mereka bisa menjadi seorang chef.

Ini menunjukkan bahwa siapa pun bisa menjadi chef, bahkan hingga masterchef. Namun, proses menuju ke level tersebut membutuhkan proses yang panjang. Selain banyak belajar dan menyerap ilmu yang diterima, kita juga harus pintar berinovasi, mencari ide yang baru. Belum lagi jika tinggal di negara empat musim. Bahan makanan harus disesuaikan dengan musim. Contoh, untuk winter, bahan-bahan untuk memasak pasti tidak jauh dari labu atau Chinese artichoke. Karenanya, butuh kreativitas yang tinggi.

Waktu memasak antara daging sapi, daging ayam, dan ikan membutuhkan waktu yang berbeda. Mungkin banyak orang tidak terlalu memperhatikan waktu memasak, asalkan sudah berubah warna, maka dianggap sudah matang. Namun, di dunia profesional tidak sesimpel itu. Banyak yang bisa memasak, tetapi sedikit yang memahami betul teknik yang benar. Untuk membuat satu makanan dibutuhkan banyak teknik dan harus disiplin.

Dalam penyajiannya pun, dibutuhkan kedisiplinan. Mulai pemilihan piring yang cocok untuk hidangan tersebut, letak dan komposisi penyajian juga harus diperhatikan. Dari pengalaman yang saya alami, dunia kuliner profesional itu memang keras dan disiplin. Mulai dari dibentak oleh chef sampai dibuang makanannya (produk yang dibuat).

Hal tersebut sudah biasa dalam dunia kuliner, terlebih jika bekerja di Eropa atau negara lainnya, atau bila bertemu dengan head chef yang sangat menjunjung disiplin tinggi. Setelah mengalaminya sendiri, saya mengerti mengapa hal-hal seperti itu terjadi. Tujuannya untuk membentuk mental menjadi kuat, melatih untuk mengontrol diri agar tidak emosi.

Ini lantaran dalam membuat suatu seni kuliner, membutuhkan disiplin yang tinggi, karena dibutuhkan proses dan bahan yang tidak murah. Untuk menjadi seorang masterchef dibutuhkan waktu yang lama, mulai dari apprentice (traineee), lalu commis, chef de partie, sous chef, chef de cuisine, head chef atau biasa juga disebut executive chef. Untuk titel masterchef, biasanya para chef sudah mengikuti banyak kompetisi level master dan memenanginya.

Namun, kemajuan suatu negara diidentikkan dengan kemajuan kulinernya. Sayangnya, di negara kita sekolah tata boga atau kuliner layaknya kelas dua. Padahal, di Eropa misalnya, untuk mendalami suatu jenis makanan, misalnya pastry dan bakery, butuh biaya yang tidak sedikit. Dunia kuliner merefleksikan kemajuan suatu budaya bangsa karena culinary art mencerminkan harga diri.

Dari sana terlihat apa yang dimakan masyarakat, standar masakan, dan bahan yang digunakan, dan kebersihan dari tempat memasaknya. Untuk itu, dengan kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia, kuliner di Tanah Air sangat beragam. Kuliner kita berdasar pada rempah-rempah yang mudah didapatkan di sekitar kita.

Untuk itu harus terjadi transformasi, regenerasi paradigma pelaku, terutama kalangan muda. Sekarang ini entrepreneur di bidang kuliner sudah mulai bermunculan. Dukungan dari keluarga sangat penting bagi kaum muda yang ingin terjun ke dunia ini. Ayah saya yang mendorong saya.

"Carilah ilmu yang tidak pernah pensiun," ujarnya. Dan, saya dengan pasti memilih kuliner.

Sylvania Oktyvani Usdoko
Alumni DCT and Culinary Arts Academy Switzerland (ftr)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.



image

Kreasi Makanan Unik Imlek dari Chef Malaysia

Posted: 21 Jan 2014 06:39 AM PST

NEW YORK - Demi memeriahkan sajian imlek di Amerika, Chef Tommy Lai dari Malaysia menghadirkan kuliner Imlek yang berbeda. Kuliner yang dibuat yakni salad ikan mentah.

Chef Malaysia pertama yang mendapatkan Michelin Star di New York, Amerika ini telah menciptakan hidangan kuliner unik di Tahun Baru China 2014.

Chef Tommy mengatakan, kuliner yang dibuatnya disebut "Yu Sheng", di mana dalam bahasa Kanton berarti "salad ikan mentah" yang akan disajikan di restoran Rasa di New York Greenwich Village.

Hidangan yang dibagi ke dalam dua bagian ini bisa disajikan untuk empat hingga enam orang dengan harga USD18 dan USD28 atau setara dengan 60 dan 90 Ringgit Malaysia (RM).

Restoran Rasa merupakan salah satu dari tiga restoran Malaysia yang hadir di New York dan New Jersey sejak 2013. Lai mengatakan, untuk USD1 atau setara dengan 3,30 RM dari setiap hidangan Yu Sheng ini akan disumbangkan ke City Harvest, sebuah organisasi penyelamatan makanan yang didedikasikan untuk orang-orang yang kelaparan di New York.

Sajian Yu Sheng ini akan disajikan dari 16 Januari sampai 9 Februari 2014 atau saat Imlek yang dimulai 31 Januari 2014. Restoran Rasa sendiri dijalankan oleh Lai dan adiknya bernama Cammie Lai, serta dua orang lainnya yang diterima dengan baik di New York. Restoran tersebut dibuka pada Desember 2013. Nama "Rasa" diambil dari desa yang ada di Malaysia, tempat di mana Lai dilahirkan.

Sementara pengertian nama Yu Sheng, di mana Yu berarti ikan dalam bahasa Kanton, dan Sheng berarti mentah. Dua kata ini jika digabungkan bermakna salad ikan mentah yang dianggap sebagai hidangan keberuntungan.

Angka delapan dianggap beruntung dalam bahasa China, begitu pula dengan 28 bahan yang dipakai dalam membuat Yu Sheng. Tak sembarangan, kuliner ini juga memiliki simbol tersendiri, di mana Lo Hei yang berarti kemakmuran, dicampurkan ke dalam makanan sehingga menyimbolkan kecerahan oleh mereka yang memakannya.

Dalam membuat Yu Sheng, menggunakan gerakan melempar paling tinggi, orang China percaya hal ini akan membawa lebih banyak uang dan kemakmuran di Tahun Baru. Restoran Rasa pun sudah terdaftar di bawah Malaysia Kitchen Programme (MKP) yang ada di kantor Malaysia External Trade Development Corporation di New York.

MKP diprakarsai oleh pemerintah Malaysia guna mempromosikan makanan Malaysia di sejumlah pasar dengan tujuan jangka panjang untuk mempromosikan bahan baku Malaysia, mulai dari rempah-rempah hingga makanan siap saji.

Chef Lai juga menyajikan makanan tradisional yang unik untuk China Malaysia, Melayu, dan etnis India seperti Wat Tan Hor, Nasi Lemak, dan mi goreng India. (ftr)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.



image

Langkah Benar Bersihkan Kepiting

Posted: 21 Jan 2014 06:14 AM PST

Koran SINDO
Selasa, 21 Januari 2014 21:14 wib
detail berita
(Foto: ifood)
SAAT cuaca dingin, hidangan berkuah dan berisi seafood menjadi pilihan menggiurkan. Salah satu pilihannya adalah kepiting. Namun, perhatikan benar tips memilih kepiting segar dan membersihkannya.

Berikut beberapa tips membersihkan kepiting:
1. Letakkan di atas talenan. Letakkan kepiting di atas talenan dengan bagian dada menghadap ke atas. Pastikan kepiting masih dalam keadaan terikat dan belum dicuci.
2. Gunakan pisau tajam. Saat membelah dada kepiting menjadi dua bagian, pastikan pisau yang digunakan tajam. Setelah kepiting benar-benar mati (ditandai jari jarinya yang sudah tidak bergerak), Anda dapat melepaskan tali yang mengikat bagian badannya.
3. Buang bagian batok. Tanggalkan batok yang sudah terbelah, ambil insangnya dan buang. Lepaskan juga ujung-ujung jari kepiting karena ujung jari kepiting tersebut tidak mengandung daging.
4. Bersihkan. Cuci hingga bersih kepiting di bawah air yang mengalir. Hilangkan isi perutnya yang berwarna kehijauan. Bagian yang berwarna kuning adalah lemak kepiting, jika menyukainya, Anda tidak perlu membuangnya.
5. Pukul capitnya. Setelah kepiting benar-benar bersih, pukul capitnya menggunakan gagang pisau, namun jangan sampai retak. Hal ini agar bumbu bisa meresap hingga ke dalam daging capit serta memudahkan untuk dipecah saat disantap.
6. Jangan membuang batok kulit. Batok kulit yang sudah terlepas jika ada bagian-bagian yang menempel bagian ini pun enak untuk dimakan. Cukup dicuci dengan air yang mengalir tanpa dikorek agar daging yang menempel tidak hilang. (ftr)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.



image

Tidak ada komentar: