Sabtu, 22 Februari 2014

“Adee, Buah Tangan Legit dari Aceh” plus 2 more

“Adee, Buah Tangan Legit dari Aceh” plus 2 more


Adee, Buah Tangan Legit dari Aceh

Posted: 22 Feb 2014 05:00 AM PST

BANDA ACEH – Jika bertandang ke Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, belum lengkap rasanya kalau tak mencicipi Adee Meureudu; kue sejenis bingkang beraroma bawang goreng yang rasanya legit dan gurih. 

Di daerah asalnya, Adee sering dijadikan kudapan pendamping kopi di warung-warung, dan hidangan untuk tamu dalam kenduri atau hajatan adat. Dulu Adee hanya ada saat bulan Ramadan, dimana banyak di jual ketika jelang berbuka puasa.

Setelah bencana tsunami menerjang Aceh, Adee kini sangat mudah ditemui dan menjadi oleh-oleh khas Pidie Jaya yang amat diminati, karena sudah tersedia dalam kemasan praktis. Soal legalitas, Adee di sana sudah mendapat izin Balai Pengawasan Obat Makanan (BPOM) dan Dinas Kesehatan.

Memasuki Kabupaten Pidie Jaya, kita dengan mudah bisa menemui rak dan kios-kios penjaja Adee di sepanjang Jalan Nasional Banda Aceh-Medan. Terutama saat memasuki Kecamatan Bandar Baru, Meureudu, Meurah Dua, Ulim dan Bandar Dua.

Mereka menawarkan Adee dengan berbagai merek. Uniknya merek Adee Meureudu rata-rata menggunakan kata depan Kak yang diambil dari nama panggilan pembuatnya, misalnya Kak Mah, Kak Aina, Kak Mutia, Kak La dan lainnya.

Produsen Adee semuanya berasal dari industri rumah tangga di Meuraksa, desa pesisir di Kecamatan Meureudu. Tapi, mereka tetap mengedepankan persaingan yang sehat, tanpa saling jegal.

"Kami saling menghormati, sudah punya pelanggan masing-masing," kata Asmah (35) alias Kak Mah, seorang pemilik usaha Adee, beberapa waktu lalu. Ia menabalkan nama panggilannya pada merek Adeenya.

Bermula dari ilmu secara turun temurun dari orangtuanya, Kak Mah mampu memproduksi 100 sampai 200 potong Adee dalam berbagai ukuran dan rasa sehari. "Kalau ada permintaan khusus malah bisa 300 (potong)," ujarnya.

Proses produksi berlangsung di bawah bangunan seluas separuh lapangan volley,  di belakang rumahnya. Untuk kelancaran usaha, ia mempekerjakan 12 orang warga setempat.

Adee punya dua rasa; tepung dan ubi. Cara buatnya tak sukar. Bahan utamanya adalah tepung terigu untuk rasa tepung, dan ubi yang sudah dilicinkan, untuk Adee rasa ubi. Bahan selanjutnya yakni gula pasir, telur, santan kelapa, daun pandan dan vanilli. Semua bahan itu diolah menjadi adonan.

Nah, pada cara mengaduk dan takaran bahannya ini dituntut ketelitian ekstra."Butuh keahlian," sebut Kak Mah.

Adonan kemudian dimasukkan dalam loyang yang sudah dilumuri minyak goreng dan bawang. Panas kan dulu agar tak lengket. Tahap selanjutnya adalah memanggangnya dalam oven atau tungku. Kalau sudah matang, Adee siap disantap.

Karena proses pembuatannya tanpa memakai pengawat, penganan yang teksturnya lembut itu hanya tahan paling lama tiga hari. 

Adee hasil produksi Meuraksa itu kemudian dititipkan di kios atau otlet-otlet khusus. Bukan hanya di Pidie Jaya, tapi juga di kabupaten tetangga seperti Pidie, Bireun, Banda Aceh bahkan dikirim hingga ke luar Aceh, sesuai permintaan.

Habsah (32) seorang pemilik kios Adee di Jalan Banda Aceh-Medan kawasan Simpang Empat, Pidie Jaya mengatakan, permintaan Adee lumayan tinggi. "Khususnya dari orang-orang yang sedang bepergian," katanya.

Kendaraan yang melintas di depan kiosnya, banyak yang berhenti untuk membeli Adee. Dalam sehari Adee yang dijualnya bisa laku hingga 100 potong. "Rasa ubi dan tepung sama lakunya," sebut Habsah.

Adee yang dijualnya terdiri dua ukuran dengan harga Rp25.000 untuk kotak besar dan Rp15.000 untuk satu kotak kecil. Nah, Anda tertarik untuk mencicipi Adee?. (ftr)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.



image

Festival Jenang Diawali Marut Kelapa Massal

Posted: 22 Feb 2014 04:08 AM PST

SOLO - Setelah sempat ditunda akibat hujan abu vulkanik erupsi Gunung Kelud, akhirnya festival jenang yang merupakan agenda rutin pariwisata Kota Solo kembali gelar.

Puluhan ibu rumah tangga yang berasal berbagai PKK Kalurahan dan masyarakat kota Solo secara massal marut kelapa secara bersama-sama mengawali rangkaian kegiatan Festival Jenang Solo 2014. Festival berlangsung selama dua hari tanggal 22 - 23 Februari 2014, di Ngarsopura, Solo, Jawa Tengah.

"Festival Jenang Solo 2014 kali ini menginjak yang ketiga kali," ungkap Ketua Panitia Festival Jenang Solo 2014, Heru Mataya kepada okezone, di sela-sela kegiatan Parut Kelapa, di Ngarsopuro, Solo, Jawa Tengah (22/2/2014).

Heru mengatakan bahwa rangkaian festival jenang yang ketiga antara lain, Marut Massal, Lomba Masak Jenang, Sarasehan Jenang, Adhang Agung Jenang, Masak Besar Jenang, Peluncuran buku festival jenang dan pembagian 17 ribu Jenang kepada masyarakat.

Menurut Heru, festival jenang terinspirasi dari 17 macam jenang yang mengiringi boyongan Keraton Kartasura ke Surakarta 269 tahun lalu. Sehingga tema kali ini yang diketengahkan adalah 'Inspirasi 17 Macam Jenang yang Mengiringi Perpindahan Keraton Kartasura ke Keraton Surakarta' sebagai bagian dari perayaan Hari Jadi Kota Solo ke 269 tahun.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Solo, Eny Setyani mengungkapkan bahwa Festival Jenang telah menjadi event tahunan yang digelar tiap tahun saat memperingati hari ulang tahun kota Solo. Bahkan masuk dalam kalender event kota Solo.

"Sebetulnya kalau saja tidak ada musibah letusan gunung Kelud, banyak wisatawan asing yang telah menyatakan akan liat," ujarnya.
(ftr)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.



image

Kudus, Cetak Koki Spesialis Masakan Indonesia

Posted: 22 Feb 2014 03:05 AM PST

SEKOLAH tata boga selama ini mengacu pada kuliner Barat. Sementara masakan tradisional justru dipandang sebelah mata. Padahal, negara-negara di Asia lain berlomba-lomba mengenalkan kulinernya kepada dunia.

"Apa saja masakan Indonesia?", setiap mendapat pertanyaan ini dari orang asing manakala berkunjung ke luar negeri, William Wongso mengaku bingung menjawab. Sebab, selama ini tidak ada masakan Indonesia menurutnya, yang ada masakan masing-masing daerah. Indonesia memang memiliki tradisi kuliner daerah yang kaya ragam dan unik di dunia. Malah boleh disebut sebagai negara yang paling banyak memiliki keragaman hidangan. Tradisi luhur tersebut tersebar di 34 provinsi Indonesia dengan bermacam jenis makanan dan minuman.

Namun, secara umum kuliner Indonesia hanya identik pada beberapa jenis makanan, seperti nasi goreng, sate, atau gado-gado. Bandingkan dengan negara lain yang sudah lebih dulu aktif mengenalkan tradisi kulinernya kepada dunia. Sebut saja Vietnam, Laos, Malaysia, Korea, dan Thailand. Beruntung, sejak tahun lalu Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif resmi menetapkan 30 makanan dan minuman yang paling mewakili aset kuliner terbaik Indonesia.

Pemilihan 30 ikon kuliner tradisional Indonesia ini didasarkan pada kemudahan memperoleh bahan dan bumbu serta kuliner yang paling banyak digemari oleh masyarakat. Sejalan dengan itu, guna mengasah kemampuan para lulusan sekolah tata boga dalam menguasai 30 ikon kuliner Indonesia, Bank Negara Indonesia (BNI) bersama Djarum Foundation mendirikan Sekolah Kuliner Dapur Nusantara BNI (Kudapan BNI) yang berada di SMK Negeri 1 Kudus, Jawa Tengah.

William Wongso pun didapuk untuk mendampingi para staf pengajar agar sanggup menjadi pendidik kuliner tradisional Indonesia yang memiliki kualitas internasional. Selama setahun penuh dirinya memberikan pelatihan intensif kepada pengajar SMK tersebut guna meneruskannya kepada peserta didik.

"Juru masak khusus masakan tradisional belum ada. Makanya, saya yakin dalam waktu tidak lama lagi SMK ini akan kebanjiran siswa dari luar daerah. Merekalah perwakilan Indonesia yang akan mengantarkan kuliner kita ke dunia," kata pakar kuliner Indonesia ini pada peresmian Sekolah Kudapan BNI, Rabu (12/2) di Kudus.

Bukan hanya didampingi pakar kuliner yang telah mendunia, SMK ini juga dilengkapi dengan teaching kitchenberstandar internasional. Termasuk ruang kelas memasak dengan cooking theaterdan teaching restaurantsebagai ajang praktik siswa dan siswi dalam menyajikan 30 ikon kuliner tradisional Indonesia.

"Di samping membawa 30 ikon kuliner tradisional Indonesia ke kancah dunia, tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kualitas sekolah menengah kejuruan di Kabupaten Kudus serta membuka kesempatan berkarier yang lebih luas di sektor ekonomi kreatif dalam lingkup domestik dan internasional," ujar Primadi H Serad selaku Program Director Djarum Foundation.

Hadir pada kesempatan itu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu yang sekaligus meresmikan sekolah. Menurutnya, selama ini masakan Indonesia masih mengambang keberadaannya, dalam arti tidak jelas apa yang mau ditonjolkan.

Namun, dengan kehadiran 30 ikon kuliner Indonesia yang juga berisi resep standar serta diperkaya dengan penjelasan mengenai nutrisi dan bahan yang digunakan, maka makanan Indonesia pun siap bersaing di kancah internasional.

"30 ikon kuliner ini meliputi tiga kriteria, yaitu makanan harus disukai banyak orang, bahan baku mudah didapat, mengingat akan dibawa ke tingkat internasional, dan yang terakhir setiap makanan harus memiliki cerita sendiri," ujar Mari.

Dia mengungkapkan, bidang kuliner merupakan sektor terbesar di industri kreatif yang nilainya mencapai Rp208,6 triliun. Bahkan, penyerapan tenaga kerja di bidang ini mencapai antara 3–4 juta pekerja. Kepala SMK Negeri 1 Kudus Sudirman mengatakan, saat ini para siswa jurusan tata boga kelas X dan XI sudah diajarkan cara membuat kuliner tradisional yang ditetapkan menjadi 30 ikon kuliner tradisional di Tanah Air. (ftr)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.



image

Tidak ada komentar: