Sabtu, 29 Maret 2014

“Carl's Jr, Burgernya Besar Plus Bikin Puas!” plus 2 more

“Carl's Jr, Burgernya Besar Plus Bikin Puas!” plus 2 more


Carl's Jr, Burgernya Besar Plus Bikin Puas!

Posted: 29 Mar 2014 06:00 AM PDT

"Kami mengubah konsep gerai kami lebih ke arah yang cozy, nyaman, serta disesuaikan dengan kalangan muda,"kata Mehdi Zaidi, Chief Operating Officer F&B Mahadya Carl's Jr, saat membuka gerai terbarunya di Bintaro Xchange Mall, Bintaro, Tangerang Selatan, baru-baru ini.

Kehadiran gerai di Bintaro Xchange Mall ini merupakan yang pertama dimiliki oleh Mahadya sebagai perusahaan waralaba semenjak mengakuisisi Carl's Jr. Dimana, sebelumnya terdapat enam gerai yang tersebar di Indonesia.

Sejauh ini, Carl's Jr telah memiliki 3.000 gerai yang tersebar di 30 negara, termasuk Indonesia. Ned Lyerly, Executive Vice President of International Franchise Operations Carl's Jr, mengaku bila pihaknya terus berusaha mempertahankan kualitas burgernya.

"Kami menyadari begitu banyak perusahaan burger yang mengurangi kualitas burger, tapi kami selalu menjaga standar ukuran, yakni 10 inchi, karena kami bukan hanya memikirkan soal harga," ungkapnya.

Kekuatan burger Carl's Jr ada pada proses memasaknya yang dinamakan charbroiled. Daging sapi termasak dari bagian bawah secara bersamaan sehingga menjaga juicy-nya. Dia menambahkan, daging sapinya mempergunakan tiga daging kualitas impor, yakni berasal dari Selandia Baru, Australia, serta Amerika Serikat. Semua daging kemudian dibentuk menjadi daging hamburger. Daging burger pun diolah dengan memakai 100 persen daging sapi tanpa memakai bahan campuran sedikitpun.

"Kelebihan di resto kami ini selain ukuran burgernya besar, konsumen pun dengan bebas mengisi ulang minumannya secara gratis dengan cara hanya membayar sekali di saat pemesanan," tuturnya.

Demi melengkapi menunya, pihaknya pun memberikan menu tambahan yakni untuk sarapan. Menunya berupa breakfast burger, sunrise croissant egg and cheese, hash brown, Italian premium coffee, serta premium quality tea.  Selain menu tersebut, terdapat pula beragam jenis burger mulai dari portobello mushroom, western beef bacon burger, hawaiian teriyaki burger, jalapeno burger, famous star with cheese burger dan sebagainya. Menu-menunya dihargai mulai dari Rp23 ribu hingga Rp80 ribu.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.



image

Ayam Tangkap, Ramuan dari Ujung Sumatera

Posted: 29 Mar 2014 04:15 AM PDT

BAGI penikmat kuliner, nama ayam tangkap tentulah tak asing lagi. Nama yang unik dan citarasa yang bisa menggoda lidah membuat makanan Aceh ini dikenal luas. Karena itu, takkan lengkap jika bertandang ke ujung Pulau Sumatera ini tanpa mencicipi masakan khasnya.

Ayam tangkap kadang juga disebut ayam sampah atau ayam semak. Jangan salah, nama "sampah" ditabalkan karena ayam goreng ini bercampur dengan dedaunan yang dipakai tak hanya untuk penambah aroma, tapi juga enak dimakan. Rasanya garing seperti kerupuk.

Untuk mencari ayam tangkap bukanlah perkara sulit. Menu ini bisa ditemui di hotel berbintang ataupun sejumlah rumah makan, seperti RM Aceh Spesifik di Lambaro, Aceh Besar; RM Ujong Batee di Jambo Tape, Banda Aceh; atau RM Rayeuk di Lueng Bata, Banda Aceh.

Meski demikian, yang paling dikenal sebagai penyedia ayam tangkap bercitarasa tinggi adalah RM Ayam Tangkap Cut Dek. Rumah makan yang buka mulai pukul 09.00 WIB sampai 22.00 WIB ini berada di Jalan Lambaro, Banda Aceh, Meunasah Manyang, Pagar Air, Aceh Besar, dan Jalan Panglima Nyak Makam, Lampineung, Banda Aceh.

Ayam tangkap memiliki rasa yang beragam; gurih, sedikit manis, dan asin. Paduan rasa ini dikarenakan bumbunya berasal dari rempah-rempah khas Aceh yang terserap ke dalam daging. Tulang-tulang ayam yang berbalut daging bisa dengan mudah dikunyah karena garing. Sementara, bahan baku utamanya adalah ayam kampong Aceh.

"Ayam kampong (Aceh) dagingnya lebih bermutu, padat, juga lebih empuk. Berbeda dengan ayam lain. Kalau ayam yang lain susah dapat citarasa ayam sesungguhnya," kata Win Akustia, Manajer RM Ayam Tangkap Cut Dek.

Ayam yang dipilih berusia 5-6 bulan. Di usia ini, ayam lebih sehat, dagingnya tidak terlalu keras, dan tidak terlalu lembek. Ayam ini didapat dari peternak khusus di Aceh, sebagai pemasok tetap ke RM Ayam Tangkap Cut Dek.

Perihal bumbu, bahannya juga sangat mudah didapat di Aceh. Rempah-rempahnya terdiri dari bawang merah khas Aceh (warnanya lebih merah, lebih kecil dari bawang bombay, dan aromanya lebih 'pedas'), bawang putih, bawang merah, kunyit, garam, dan merica secukupnya. Sementara untuk menambah aroma, digunakan dedaunan seperti daun temurui atau salam koja, cabai hijau, dan daun pandan.

Semua rempah-rempah dihaluskan dan dilumuri ke daging ayam yang sudah dipotong menjadi bagian-bagian kecil. Sebelumnya, ayam direbus dan diberi jeruk nipis. Di RM Ayam Tangkap Cut Dek, segala bumbu diracik oleh koki khusus yang sudah dipercaya sejak lama.

"Tidak boleh sembarang orang yang racik. Kalau takarannya salah, bisa bergeser aromanya," tambah Win.

Ayam yang sudah dipotong kecil, kira-kira sebesar ibu jari, itu akan menyerap segala bumbu rempah-rempah. Setelah itu, ayam digoreng dengan minyak malinda yang sudah panas.

Saat proses penggorengan, daun temurui, daun pandan, dan cabai hijau dimasukkan. Dedaunan ini juga tidak dibuang saat disajikan. Selain menampilkan daya tarik, dedaunan tersebut juga berfungsi sebagai lalapan kering pelengkap potongan ayam. Seperti kerupuk, hanya dari daun. Usai matang, ayam tangkap pun siap disajikan.

Ayam tangkap tak bisa segera disajikan usai dipesan. Bukan karena harus menangkap ayamnya, tapi penjualnya harus menyortir tiap bumbu dan rempah yang akan digunakan. Juga butuh waktu untuk menggorengnya.

"Ini kita lakukan untuk menjaga citarasa. Kalau disajikan dalam keadaan hangat, baru matang, rasanya lebih nikmat," ujarnya.

Menurut Win, ayam tangkap telah ada sejak 1996. Bermula dari RM Cut Dek, saat itu orang menyebutnya dengan ayam goreng. Adapun ayam tangkap ini berasal dari eksperimen. Koki rumah makan ini mencoba memadukan ayam dengan daging dan dedaunan, seperti daun temurui dan daun pandan.

Baru pada 2005 ayam goreng berganti nama dengan ayam tangkap. Entah siapa yang memulainya dengan nama demikian, yang jelas kini hidangan ini dikenal dengan ayam tangkap. Demikian seperti dikutip dari buku Jejak Kuliner Indonesia dari JNE.

"Ke mana-mana, orang sudah menyebutnya dengan ayam tangkap," tuturnya.

Popularitas ayam tangkap membuatnya menjadi salah satu ikon makanan khas Aceh. Karena sudah dikenal luas, ayam tangkap lalu dipatenkan oleh pemiliknya, Cut Dek. Cut Dek adalah nama alias dari pemilih rumah makan tersebut, yakni Marzuki Budirman. Sejak 2007, RM Ayam Tangkap Cut Dek sudah tercatat sebagai produk resmi yang dilindungi undang-undang.

Sejaun ini, Win sudah ditawari untuk membuka cabang di luar kota bahkan luar negeri, seperti Singapura dan Malaysia. Namun, pihaknya belum siap. Salah satu persoalannya adalah citarasa. Bumbu dan bahan baku ayam tangkap sulit didapat di luar Aceh.

"Kalau ada (rasanya) tidak sama. Ayam di sini beda dengan ayam di daerah lain. Rasanya enggak akan 'dapat' nanti," tutupnya. (ftr)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.



image

Camilan Seru, Udang Panggang Renyah Balut Kelapa

Posted: 29 Mar 2014 02:16 AM PDT

JANGAN buang kelapa parut yang telah Anda ambil santannya. Ini bisa digunakan untuk membuat menu camilan nan lezat.

Banyak cara untuk bisa memanfaatkan kelapa. Kelapa bisa dibuat minyak, santan, tepung kelapa jika Anda memiliki alergi gluten, kelapa parut untuk pemanis alami, dan sebagainya. Namun, Anda mungkin belum pernah memanfaatkan kelapa untuk membuat udang panggang renyah.

Bahan-bahan yang Anda perlukan, di antaranya 500 gram udang besar (kupas dan kerat punggungnya), 45 gram tepung maizena, 1 sendok teh garam, ¾ sendok teh cabe bubuk, 170 gram kelapa parut, dan 3 putih telur (kocok hingga berbusa). Demikian seperti dikutip dari Wallstcheatsheet.

Cara membuat, bilas dan keringkan udang dengan handuk kertas. Sisihkan. Panaskan oven sampai suhu 204 derajat Celsius. Olesi loyang dengan cooking spray. Sementara itu, campur tepung maizena, garam, dan cabai bubuk di tempat yang dangkal. Tempatkan kelapa parut dalam mangkuk dangkal lainnya.

Satu per satu, baluri udang pada campuran tepung maizena kemudian celupkan ke dalam putih telur dan baluri lagi pada kelapa parut. Pastikan Anda telah melapisi udang dengan baik. Tempatkan udang pada loyang yang telah disiapkan, dan ulangi pada udang yang tersisa.

Panggang udang sampai warnanya berubah pink cerah di bagian luar sedangkan dagingnya tidak lagi transparan. Sementara, warna kelapanya kecokelatan. Ini memakan waktu sekira 15 sampai 20 menit, balikkan udang di tengah prosesnya. (ftr)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.



image

Tidak ada komentar: