Minggu, 02 Maret 2014

“Kuliner Italia Bercitarasa Thailand, Penasaran?” plus 2 more

“Kuliner Italia Bercitarasa Thailand, Penasaran?” plus 2 more


Kuliner Italia Bercitarasa Thailand, Penasaran?

Posted: 02 Mar 2014 01:15 AM PST

BERLOKASI di Lotte Shopping Avenue lantai GF 18, Ciputra World Kuningani, Otterhound menawarkan sensasi bersantap dengan mengeksplorasi keunikan perpaduan hidangan dua negara, Italia dan Thailand. Mengangkat tagline "Thai Food with a Twist", Otterhound Cafe mencoba menyilangkan ragam kuliner Negeri Piza dengan citarasa Bumi Siam. Seperti apa?

Restoran Thailand, sudah tak terhitung dengan jari jumlahnya di Ibu Kota. Namun, restoran yang mengawinkan hidangan Thai dengan kuliner negara lain, bisa jadi baru Otterhound yang mencobanya. Beroperasi sejak awal Desember tahun lalu, kafe yang berlokasi di Lotte Shopping Avenue lantai GF 18, Ciputra World Kuningan ini, menawarkan pengunjung untuk mengeksplorasi keunikan perpaduan hidangan dua negara.

Sebut saja salah satu menunya spicy spaghetti. Bukannya dimasak dengan saus bolognaise yang rasanya manis asam atau aglio olio yang lebih sederhana, spaghetti pedas ini malah dimasak ala Thai. Dengan tambahan daun basil dan peppercorn, menciptakan rasa pedas asin khas Thailand.

Berikutnya pan fried seabass with red curry sauce. Sekilas, rupanya seperti ikan panggang dengan bumbu ala Barat. Namun, ketika dicicipi barulah tahu hidangan ini sangat Thailand. Sea bass atau semacam ikan kerapu, dipanggang dengan kari bergaya Thai. Kari ini banyak memakai cabai sehingga ikan berdaging 150 gram ini terasa pedas mantap. Disajikan dengan nasi, dijamin membuat perut lebih kenyang. Tiga potong buah khas negara tropis, nanas, turut disajikan dengan dipanggang lebih dulu. Fungsi nanas di sini selain sebagai garnish juga untuk menetralkan rasa pedas dengan rasanya yang manis.

Anda juga bisa mencoba spicy shanghai noodle. Namanya memang mi, tapi mi yang disajikan di sini bentuknya seperti gulungan-gulungan berwarna cokelat. "Minya kami impor dari Thai," kata Sisca Soentoro, Marketing Communications Manager Otterhound Cafe.

Mi shanghai ini dimasak menggunakan arak Thai, kikoman, dan saus tiram. Cocok bagi penyuka seafood karena terdapat kerang, udang jerbung, dan cumi, dilengkapi jamur shitake dan irisan cabai merah besar. Masih soal seafood, salmon carpacio in spicy hot sauce boleh juga dipesan. Irisan salmon segar ditata apik di piring datar dan disiram saus pedas asam yang dinamakan green chili sauce. Komposisinya antara lain cabai rawit hijau dan lemon jus untuk rasa asamnya.

Otterhound juga memiliki menu burger, yaitu buffalo burger. Jangan lihat namanya, burger ini asli menggunakan daging sapi. Yang unik, bun atau roti burger berwarna hitam dengan taburan biji wijen di atasnya. Ukurannya cukup besar. Terlebih roti burger tampak tebal dengan tekstur padat. Rupanya karena memakai tinta cumi untuk pewarna hitam, adonan roti menjadi mengembang.

Bukan hanya bun yang tebal, daging burger juga tak kalah tebalnya dengan tambahan beef bacon pula di atas patty (daging burger). Burger disajikan di atas talenan kayu dengan kentang goreng, selada, bawang bombai, tomat, dan saus.

Otterhound Cafe tidak sembarangan mengeluarkan menu-menu Thailand ini. Kafe ini berada di bawah grup Jittlada yang memang spesialis restoran Thailand. Mereka pun memiliki tak kurang dari delapan juru masak berkebangsaan Thailand.

Sisca menyatakan, nama Otterhound diambil dari nama ras anjing yang senang bertualang. Pada dindingnya terdapat lukisan anjing yang bepergian dari suatu negara ke negara lain dan berakhir di Thailand. Interior kafe pun dirancang bergaya industrial dengan langit-langit yang terbuka sehingga bisa terlihat pipa-pipa dan lampu-lampu bergelantungan.

Di bagian muka, pengunjung disambut dengan meja bar. Sementara lebih ke dalam Anda bisa melihat meja dan kursi kayu yang dicat seadanya.

"Tempat ini cocok untuk makan makanan berat atau untuk sekadar ngopi. Jadi, sehabis makan pengunjung enggak perlu cari kedai kopi karena kami juga menyediakan aneka kopi," kata Sisca.

Jika diperhatikan, ada meja dan kursi makan serta kursi rendah dengan meja kopi. Otterhound Cafe menyediakan koleksi bir dan wine dari berbagai negara. Termasuk mocktail sehat. Antara lain fruity shaky yoghurt yang merupakan campuran jeruk, pisang, nanas, dan yoghurt. Ada pula inocent voyage juga meliputi jeruk, nanas, dan anggur.

Sementara khasiat buah kiwi bagi kesehatan bisa Anda temukan pada green mellow. Campuran apel, kiwi, dan daun mint untuk penambah aroma. Sebagai penutup, Anda bisa mencoba strawbery crumbel, oreo cheese cake, dan ragam cake lainnya. Ada satu dessert asal Thai yang terselip di daftar menu, thai sakoo piek. Sagu dengan water chesnut dan santan manis. (ftr)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.



image

Yunita "Idol" Suka Ngemil Milu Siram

Posted: 01 Mar 2014 11:15 PM PST

NGEMIL berarti makan camilan atau makanan ringan. Pilihannya bisa kue manis ataupun hidangan berkuah, seperti favorit Yunita "Idol".

Yunita lahir dan menetap di Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah, hingga lulus SMU. Selepas itu, dia hijrah ke Makassar, Sulawesi Selatan, untuk melanjutkan kuliah dan bekerja. Tak heran jika Yunita hapal betul kuliner asal kampung halamannya.

Untuk pilihan hidangan lengkap, Yunita sempat membocorkan doyan bersantap nasi panas, cakalang bakar, lalapan terong ungu dan daun singkong kukus, serta sambal dabu-dabu. Ada lagi kuliner khas daerahnya yang menjadi menu camilan, namanya milu siram.

"Milu siram itu mirip binte biluhuta dari Gorontalo, Sulawesi Utara, dibuat dari jagung muda," katanya saat bertandang ke redaksi Okezone di Gedung HighEnd, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, baru-baru ini.

Ditambahkan Yunita, milu siram adalah hidangan berkuah bening, yang berisi jagung manis yang sudah dipipil, irisan daun bawang, ikan tongkol yang sudah ditumis dan suwir-suwir, daun kemangi, dan potongan tomat. Bumbunya sederhana saja, seperti bawang merah, cabe rawit, cabe merah, air jeruk nipis, dan cabe hijau.

Cara membuatnya pun sederhana, yakni rebus air lalu masukkan jagung, daun bawang, bawang merah halus, bawang merah iris, cabe rawit potong, cabe merah, air jeruk, dan garam. Bila sudah matang, masukkan daun kemangi dan ikan tongkol.

"Dimakannya pakai perkedel ikan yang digoreng dan berukuran kecil. Aku biasanya jadikan ini untuk camilan sore," tutupnya. (ftr)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.



image

Menantang Pedas di Casa De Peri Kokas

Posted: 01 Mar 2014 09:17 PM PST

PENGUNJUNG menikmati makanan di restoran khas Portugis Casa De Peri di Kota Kasablanka (Kokas), Jakarta Selatan. Berbagai hidangan dimasak dengan menggunakan saus peri-peri dengan tingkat kepedasan yang berbeda-beda.

Restoran khas Portugis ini menantang Anda mencicipi berbagai hidangan yang dimasak menggunakan saus peri-peri. Tingkat kepedasannya terbilang ekstrem! Portugal rupanya memiliki kuliner yang tak kalah lezat dari negara lain. Terlebih, negara di Eropa bagian barat daya ini mempunyai saus andalan bernama peri-peri sebagai bumbu dasar untuk berbagai masakannya.

Namun, kelezatan hidangan negara ini belum begitu terekspos di Ibu Kota. Mengingat keberadaan restoran Portugis yang sangat langka. Dewi Saphira Hutagalung justru melihat hal ini sebagai peluang. Dengan riset yang dilakukan selama beberapa tahun, Dewi mantap mendirikan Casa De Peri di lantai UG mal Kota Kasablanka area Food Society.

"Padahal, masakan Portugis enggak kalah enak dengan masakan negara lain. Dia juga punya saus andalan, yakni peri-peri," tutur Dewi.

Casa berarti rumah sementara peri adalah chili pepper (cabai). "Peri adalah cabai Asia yang akhirnya menjadi formulasi orang-orang Portugis yang pernah menjajah negara Asia, seperti Indonesia, Malaysia, dan beberapa negara lainnya. Namun, rempah-rempah seperti cabai tidak bisa ditanam dengan iklim Portugal. Alhasil, mereka menanamnya di Afrika Selatan," ungkap Dewi.

Di tempat ini, ayam panggang sebagai highlight menu, bahkan ditawarkan dengan tingkat kepedasan yang ekstrem. Dimulai dari classic, mild, medium, hot, dan extrahot. Belum cukup dengan level kepedasan itu, Casa De Peri juga merilis triple X alias sangat amat pedas.

"Kami ingin memberi sesuatu yang berbeda. Di mana pun level kepedasan yang ditawarkan sebuah restoran sering tidak memenuhi ekspektasi pelanggan. Jadi, sengaja kami tawarkan level triple X ini," kata Chef Rony.

Cabe peri, lanjut Rony, lebih banyak diblender atau direbus dengan beberapa macam rempah seperti bawang putih. Sebelum dipanggang, daging ayam dimarinasi semalaman kemudian dikukus selama beberapa menit. Setelah itu, ayam dipanggang sembari diolesi saus peri-peri merata ke permukaan kulit.

Benar saja, dagingnya empuk ketika disantap. Daging mudah dipotong menggunakan sendok sekalipun dengan bumbu yang menyerap hingga ke dalam. Gigitan pertama, ada rasa asam, baru kemudian rasa pedas mulai menyusuri lidah.

Rony menjelaskan, karakteristik hidangan asal negara yang beribu kota Lisabon ini memang merupakan perpaduan sedikit asam dan dominan pedas. Rasa asam didapat dari lemon, cuka, atau jeruk nipis. Masih soal ayam, kulit ayam goreng menjadi favorit di sini. Renyah sekaligus terasa bumbu. Kulit ayam memang dimarinasi dulu baru kemudian ditepungi dan di-deep fried.

Berkunjung ke sini, pastikan Anda tak melewatkan paella. Nasi khas Portugal yang dimasak setengah matang dengan tambahan cabai merah dan hijau besar, bawang bombai, dan ayam panggang. Penampilannya mirip dengan nasi kuning. Spageti juga bisa dinikmati, ada dua jenis saus yang digunakan.

Garlic sauce dan saus peri-peri. Bagi anak-anak, sebaiknya memilih garlic sauce yang sudah pasti bebas pedas. Menu lain, chicken wrap dengan daging tenderloin impor dan salad. Kedua menu ini disiram dengan peri mio, yakni saus peri-peri yang sudah diberi sentuhan fusion sang chef dengan tambahan mayones.

Terakhir sebagai penutup, cobalah churros. Camilan yang digoreng berbentuk panjang bergerigi. Jika dilihat dari depan, bentuknya seperti bintang bertangan enam karena dicetak dengan churrera, semacam "alat suntik" besar yang diisi dengan adonan. Churros terbuat dari campuran tepung, air, dan garam, dan disajikan dengan kayu manis serta saus cokelat. Interior restoran dominan menggunakan kayu dengan lantai parket. Menurut Dewi, kebiasaan orang Portugal adalah bersantap di area beranda. (ftr)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.



image

Tidak ada komentar: